"Harga Dirimu, Kehormatanmu"
Semoga
Allah Yang Mahabesar memberi kesempatan pada kita untuk mengenal diri agar kita
tidak tertipu dengan topeng duniawi. Saudaraku, mengenal diri adalah syarat
untuk menjadi lebih baik. Tidak mungkin kita bisa memperbaiki orang lain, kalau
kita tidak bisa memperbaiki diri. Tidak mungkin kita bisa memperbaiki diri,
kalau kita tidak berani jujur terhadap diri sendiri.
Allah
adalah Al-Kabir; Dzat Yang Mahabesar. Jagat raya yang demikian besar
sepenuhnya ada dalam genggaman Allah. Demikian pula galaksi, matahari, planet,
bumi, dan manusia yang menghuninya ada dalam genggaman Allah SWT. Dalam
pandangan Allah semua itu sangat kecil dan tidak ada harganya. We are nothing,
termasuk harta, pangkat, kepandaian, ataupun ketenaran. Kalau dunia ini seharga
sayap nyamuk saja, niscaya Allah tidak akan memberikan kekayaan kepada
orang-orang kafir. Dunia ini, demi Allah, tidak ada harganya sama sekali bagi
Allah. Manusia hanya sekadar mengaku-ngaku saja. Dunia hanya tempat singgah
sementara. Itulah sedikit makna Allahu Akbar; Allah Yang Mahabesar.
Karena
itu, tatkala kita mendengar kumandang adzan, semua urusan duniawi menjadi
kecil. Bisnis, rapat, pekerjaan, atau uang semuanya menjadi kecil. Allahlah
Yang Mahabesar, hingga kita bersegera menuju panggilan tersebut. Begitu pun
saat berperang. Seruan Allahu Akbar seharusnya menjadikan musuh-musuh kita
menjadi kecil. Dengan memaknai Allahu Akbar tidak akan terlintas dalam diri
kita untuk menjadi pengecut dan mundur dari pertempuran. Musuh adalah bonus
yang diberikan Allah kepada kita. Musuh adalah ladang amal. Orang yang mengenal
Allah akan menjadikan kalimat laa khaufun 'alaihim walaahum yahzanun;
tidak ada yang ditakuti kecuali Allah, sebagai prinsip hidup.
Menganggap
dunia kecil, bukan berarti kita harus meremehkannya. Tujuannya, kita harus
mengantisipasi agar tidak menjadi penjilat. Salah satu ciri pribadi bermutu
adalah pribadi yang tidak menjilat kepada manusia. Boleh kita bergaul rapat
dengan manusia, tapi hati kita jangan pernah berharap dari mereka. Harapan kita
hanya kepada Allah semata. Mungkin kita tidak punya harta, rumah, atau jabatan
yang berharga, tapi kita harus punya harga diri yang berharga dan terus dijaga.
Kemuliaan harga diri, inilah harta kita sesungguhnya.
Bila kita
mengenal Allah Dzat Yang Mahabesar, maka tidak ada tempat bagi kita untuk
merasa besar. Konsekuensinya seperti pipa U. Semakin kita mengangkat diri, maka
akan semakin jatuh pula kita dibuatnya. Sebaliknya, semakin kita menekan diri
ke bawah (rendah hati), maka akan semakin naik pula harga diri kita. Allah SWT
sudah mendesain hati kita untuk tidak menyukai kesombongan dan menyukai orang
rendah hati. Pertanyaannya, kita termasuk orang yang mana?
Saudaraku,
kenikmatan yang hakiki adalah ketika kita bisa memberikan manfaat bagi orang
lain, bukan mendapatkan dari orang lain. Sebuah pohon yang akarnya menghujam ke
bumi, akan menjadi pohon yang kokoh. Tapi pohon yang akarnya tidak menghujam ke
bumi, niscaya akan menjadi pohon yang rapuh. Demikian pula dengan manusia.
Pribadi yang kokoh dalam hidup -- walau dicari maki, difitnah, dibenci --
adalah pribadi yang pribadinya menghujam ke bumi rendah hati. Sebaliknya,
pribadi yang rapuh adalah pribadi yang sombong dan terlalu berharap dari orang
lain. Kebahagiaan yang sejati tidak datang dari orang kepada kita, tapi datang
tatkala kita bisa berbuat untuk orang lain.
Bukankah
ingin dihormati adalah standar dari manusia? Benar, tapi kita harus berusaha
membelokkannya. Bagi kita cukuplah pujian dan penilaian Allah saja. Semakin
kita tidak condong kepada dunia, maka kita akan semakin bahagia dalam hidup.
Saya teringat sebuah pesan dari seorang alim. "Kamu akan nikmat dalam
hidup dan dicukupi kebutuhannya. Satu saja syaratnya, jangan pernah berharap
kepada makhluk". Karena itu, sesulit apapun situasi yang kita hadapi, kita
harus mati-matian menjaga kehormatan diri. Kalau kita sudah menengadahkan
tangan kepada manusia, pasti jatuh harga diri kita. Boleh saja kita terbatas
ekonominya, tapi jangan sekali-kali kita membatasi harga diri kita.
Saudaraku,
inilah kekuatan iman. Kita harus menjalani setiap langkah dengan penuh
perhitungan, penuh perencanaan, dan penuh kemuliaan. Bila kita sanggup
melakukan hal ini, kita tidak perlu takut mati kapan pun, karena itulah
keberuntungan kita. Takutlah kita bila hidup tergadai kemuliaannya. Kita harus
berani tampil apa adanya. Bolehkah kita memiliki topeng yang bagus? Boleh, tapi
pastikan diri kita jauh lebih bagus daripada topengnya. Tatkala topeng diambil,
maka orang akan terkesan pada kita.
Setiap
kali kita mendapatkan sesuatu, maka pastikan harga diri kita lebih bernilai
dari apa yang kita dapatkan. Saat kita mendapatkan uang, pastikan kemuliaan
kita jauh lebih tinggi dari uang tersebut. Uang itu tidak lama, tapi
kehormatannya akan terus melekat. Kita pun jangan tersiksa oleh keinginan.
Keinginan yang ideal itu harus sesuai dengan keperluan dan sesuai kemampuan.
Keyakinan
pada Allah harus kita buktikan dengan selalu menjaga kehormatan. Moto kita
adalah melakukan yang terbaik bagi dunia dan bermanfaat bagi akhirat. Sekecil
apapun kebaikan pasti akan kembali kepada pembuatnya. Tidak ada alasan bagi
kita untuk hidup sebagai seorang pengecut.
Inilah
yang saya maksud dengan marifatullah; mengenal Allah. Marifatullah
bukan tempat menyembunyikan kemalasan kita. Jangan menyembunyikan kelemahan dan
kemalasan diri di balik kata sabar, tawakal, ridha, dan lainnya. Keimanan pada
Allah harus diwujudkan dalam bentuk produktifitasnya. Ya tujuan hidup kita adalah
mati di jalan Allah dengan terhormat. Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Responses to "Hargai Dirimu Kehormatanmu"
Posting Komentar