Tampilkan postingan dengan label Ahlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlak. Tampilkan semua postingan
0

Belajar Dari Wajah

Minggu, 11 Januari 2015



                           "Belajar Dari Wajah"
                                             


Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Menarik sekali jika kita terus-menerus belajar tentang fenomena apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini. Salah satunya adalah wajah. Wajah? Ya, wajah. Wajah bukan hanya masalah bentuk, yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

Ketika pagi menyingsing misalnya, tekadkan dalam diri, ''Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu bagaimana?'' Karena, pasti hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang.

Saat berjumpa dengan orang, kita bisa belajar ilmu tentang wajah, karena setiap wajah memberikan dampak yang berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Menakutkan? Mengapa? Apakah karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil, tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

Aa pernah berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram. Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air menyegarkan pada siang hari.

Kalau hari ini kita berhasil menemukan wajah seseorang yang menenteramkan, maka cari tahu mengapa dia bisa memiliki wajah seperti itu. Tentu kita akan menaruh hormat kepada dia. Betapa senyumannya yang tulus, pancaran wajahnya tampak sekali ia ingin membahagiakan siapa pun yang menatapnya. Sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap raut wajah yang berlawanan? Wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Ini pun perlu kita pelajari.

Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan dan menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak menenteramkan. Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah, raut seperti apakah yang ada di wajah ini?

Memang, ada di antara hamba-hamba Allah yang bibirnya didesain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapa pun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.

Bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, agar lebih ikhlas lagi. Karena senyum bukan sekadar mengangkat ujung bibir saja, tapi yang utama adalah keinginan membahagiakan orang lain. Rasulullah SAW memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang ditemuinya sehingga orang itu merasa puas. Diriwayatkan, bila ada orang yang menyapanya, Rasul menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama, sesuai kadar kemampuannya.

Walhasil, ketika Rasul berbincang dengan siapa pun, maka orang yang diajak berbincang itu senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang dan bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang ia contohkan. Hal itu berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

Kemuramdurjaan, ketidakenakan, dan kegelisahan itu muncul karena kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita sebagai yang paling utama. Makanya, kita sering melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh dan daya pancar yang kuat.

Karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah. Tentu bukan untuk meremehkan, tapi mengambil teladan wajah yang baik dan menghindari yang tidak baik. Lalu praktikkan dalam perilaku sehari-hari. Selain itu, belajarlah untuk mengutamakan orang lain, walaupun hanya sesaat saja. Wallahu a'lam.

0

Rahasia Silaturahmi



                                     "Rahasia Silaturahmi"
                                                   
            
    "Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? 'Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan,' sabda Rasulullah SAW, 'adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah balasan (siksaaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan" (HR Ibnu Majah).

Silaturahmi tidak sekadar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang.

Makna menyambungkan menunjukkan sebuah proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. Menghimpun biasanya mengandung makna sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda, "Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus" (HR Bukhari).

Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk menyadari bahwa silaturahmi tidak hanya merekayasa gerak-gerik tubuh, namun harus melibatkan pula aspek hati. Dengan kombinasi bahasa tubuh dan bahasa hati, kita akan mempunyai kekuatan untuk bisa berbuat lebih baik dan lebih bermutu daripada yang dilakukan orang lain pada kita.

Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang kuat. Namun, bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahmi kepada kita, lalu dengan sengaja kita mengunjunginya, maka inilah yang disebut silaturahmi. Apalagi kalau kita bersilaturahmi kepada orang yang membenci kita atau seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya. Inilah silaturahmi yang sebenarnya.

Dalam sebuah hadis diungkapkan, "Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" tanya Rasul pada para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi" (HR Bukhari Muslim).

Dari sini terlihat jelas, betapa pentingnya menyambungkan tali silaturahmi dan memperkuat nilai persaudaraan tersebut. Betapa tidak! Dengan silaturahmi maka akan terjalin rasa kasih sayang dengan sesama manusia, bahkan dengan makhluk Allah lainnya. Bila ini terjadi maka rahmat dan kasih sayang Allah pun akan turun dan menaungi hidup kita.

Tapi sebaliknya, rahmat dan kasih sayang Allah akan menjauh bila tali silaturahmi sudah terputus di antara kita. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum yang di dalamya ada orang yang memutuskan tali persaudaraan".

Seorang sahabat yang bernama Abu Awfa pernah bekisah. Ketika itu, kata Abu Awfa, kami berkumpul dengan Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau bersabda, "Jangan duduk bersamaku hari ini orang yang memutuskan tali silaturahmi". Setelah itu seorang pemuda berdiri dan meninggalkan majelis Rasul. Rupanya sudah lama ia memendam permusuhan dengan bibinya. Ia segera meminta maaf kepada bibinya tersebut, dan bibinya pun memaafkannya. Ia pun kembali ke majelis Rasulullah SAW dengan hati yang lapang.

Sahabat, bagaimana mungkin hidup kita akan tenang kalau di dalam hati masih tersimpan kebencian dan rasa permusuhan. Perhatikan keluarga kita, kaum yang paling kecil di masyarakat. Bila di dalamnya ada beberapa orang saja yang sudah tidak saling tegur sapa, saling menjauhi, apalagi kalau di belakang sudah saling menohok dan memfitnah, maka rahmat Allah akan di jauhkan dari rumah tersebut. Dalam skala yang lebih luas, dalam lingkup sebuah negara. Bila di dalamnya sudah ada kelompok yang saling jegal, saling fitnah, atau saling menjatuhkan, maka dikhawatirkan bangsa tersebut akan semakin jauh dari rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Dari sini bisa kita pahami kenapa Rasul tidak menoleransi sekecil apapun perbuatan yang bisa menimbulkan perpecahan dan permusuhan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Berhati-hatilah kalian terhadap prasangka, sebab prasangka itu sedusta-dustanya cerita. Jangan pula menyelidiki, mematai-matai, dan menjerumuskan orang lain. Dan janganlah saling menghasud, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang bersaudara" (HR Bukhari Muslim).

Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Ini sangat penting. Sebab, bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya, laksana buih di lautan yang mudah diombang-ambing gelombang, bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah. Wallahu a'lam bish-shawab.

1 komentar

Muhasabah

Sabtu, 10 Januari 2015



                                                             "MUHASABAH"
                                                                                  
                                                                          
 

Tak terasa oleh kita, waktu berjalan sedemikian cepat, tak terasa pula telah berlalu di hadapan kita tahun 2001 dan kini telah hadir pula di hadapan kita tahun 2002 yang tak kalah banyaknya tantangan yang akan kita hadapi. Masih terngiang di telinga kita berbagai kegiatan dilakukan oleh semua kalangan dalam menyambut tahun baru ini, mulai dari  kelas atas, para pejabat sampai ke lapisan masyarakat yang tak berkelas sekalipun. Mungkin masih terlintas dalam benak kita, pesta pora, musik, foya-foya dan segala macam hiburan terdengar dalam menyambut malam tahun baru, malam yang menjanjikan berjuta kenikmatan semu ditengah penderitaan sebagian yang lainnya.  Ironisnya, sebagian besar dari peserta tersebut adalah orang-orang yang mengaku dirinya muslim.
Kalau kita amati lebih jauh, tidak sepantasnya bagi seorang muslim untuk ikut andil dalam perayaan tahun baru, karena : pertama, tradisi tersebut diilhami oleh tradisi menunggu jam 12 yang dilakukan oleh orang cina penyembah dewa Toapekong. Kedua, meniup terompet adalah tradisi orang Yahudi ketika menyambut tahun baru mereka. Ketiga, kemeriahan tahun baru dipelopori oleh orang Kristen untuk meningkatkan pamor gereja. Keempat, aktivitas perayaan tahun baru lebih dekat kepada kemaksiatan dan pemenuhan hawa nafsu serta pemborosan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan sudah tentu jauh dari dzikir dan mengingat Allah. Akankah kita termasuk golongan orang-orang yang demikian? Na’udzubillah min dzalika. Rasulullah pernah mengingatkan kita melalui hadistnya :
من تشبه بقوم فهو منهم (الحديث)
Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka. Lalu apakah yang seyogyanya diperbuat oleh seorang muslim dalam menyambut datangnya tahun baru? Walaupun tahun baru masehi bukan milik kita, karena kita memiliki tahun baru tersendiri yakni tahun baru Hijriyyah.
            Muhasabah, introspeksi diri, mungkin itulah salah satu jawabannya. Bermuhasabah bukan hanya untuk orang perorang, namun juga bagi semuanya bahkan bagi sebuah negara sekalipun. Muhasabah, menghitung dan mengingat sudah sejauh manakah diri ini berbuat untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
            Datangnya tahun baru, bertambah usia tentu berkurang jatah kita untuk hidup didunia ini karena kita semakin mendekati ajal, dengan demikian bermuhasabah, sudah seberapa banyakkah bekal yang akan dibawa untuk menghadapi kehidupan pasca kematian, siapkah diri kita menghadapi pertanyaan sang Rabb tentang umur yang telah Dia anugrahkan kepada kita? Siapkah kita menghadapi kehidupan selanjutnya?. Kaum eksistensialis menyatakan bahwa manusia adalah homo viator, makhluk musafir, hidup ini bagaikan orang mampir minum begitu kata pepatah, serba singkat tidak untuk selamanya. Itulah dunia yang fana, tidak abadi. Karena itu seluruh kehidupan, baik jiwa maupun raga harus diajak untuk memaknai arti kehidupan ini serta memperkaya jiwa. Jiwa yang kaya adalah jiwa yang mampu menangkap segala makna yang hakiki dalam menjalani kehidupan , termasuk dalam menghayati makna waktu dan usia.
            Dalam keadaan yang serba sulit ini, dengan berbagai tantangan dan rintangan dalam berbagai aspek kehidupan, kehidupan sosial, budaya, politik dan lain sebagainya. Bermuhasabah, mengingat kembali, kenapa itu semua terjadi dalam sebuah negeri –yang katanya- kaya, yang mayoritas muslim ini. Dimanakah letak kesalahan dan kekurangan kita selama ini. Muhasabah, sudah sejauh manakah kita mensyukuri nikmat-Nya serta sudah seberapa banyakkah kemaksiatan yang telah kita persembahkan dihadapan-Nya. Bermuhasabah, menghisab diri sebelum di hisab oleh Allah SWT. Wallahu ‘alamu bisshowab.

0

Surat Terbuka Untuk Sahabat



                           SURAT TERBUKA UNTUK SAHABAT
                                                   

Assalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Sahabat,..
Mungkin engkau bertanya mengapa kukirimkan surat ini
padamu, padahal kamu mengenal aku sebagai orang yang
tak pernah serius memikirkan sesuatu.

Sahabat, Saidina Ali bin Abi Thalib ra.,  berkata
bahwa iman seseorang itu adalah laksana air laut,
terkadang ia pasang dan terkadang pula ia surut,
mingkin begitulah aku saat ini.
sahabat.. mungkin saat ini imanku sedang pasang
sehingga aku mau menyambung tali ukhuwah kepadamu
dengan surat ini, tapi mungkin besok aku kembali
seperti yang engkau kenal sebelumnya,..
yach,.. aku akui kalau aku hanyalah seorang manusia
yang belum bisa memegang teguh iman secara utuh, aku
masih diliputi nafsu keduniawian yang kadang membuat
aku selalu terkekang didalamnya.

Sahabat,... mari kita merenungi perjalanan kita selama
ini,..
kita bertanya pada diri sendiri,.. apa yang telah kita
lakukan selama ini..
apakah kita telah melakukan sesuatu yang memberi
manfaat untuk orang lain?
apakah kita telah memberi manfaat untuk agamaku?
apakah kita telah mengerjakan sesuatu untuk kebaikan
saudara-saudara kita?

Sahabat,..
sejak terlahir kita telah di bai`at sebagai seorang
muslim,... karena orang tua kita juga adalah muslim,..
Al Quran dan Assunah menjadi pegangan hidup kita.
Kita baca Al Quran disetiap kesempatan, kita dengarkan
untaian hadits disetiap waktu,.
namun terkadang, apa yang kita baca dan kita dengar,
hanyalah membaca dan mendengar tanpa ada aplikasi
dalam kehidupan kita.
Sahabat,...
munafikkah kita?
Masih pantaskah kita mengharapkan
syafa'at beliau kelak di hari akhir?? sedangkan kadar
ibadahku, kadar kesetiaanku lebih kecil dari
perumpamaanan buih dilautan.

seorang guru mengatakan bahwa syafa`at ialah ibarat
kain untuk menambal sebuah baju, dan ibadah kita
adalah ibarat baju tersebut. Tapi apakah ibadahku bisa
berbentuk sebuah baju ataukah hanya secarik kain yang
hanya cukup untuk menjadi sebuah lap yang hanya
berguna untuk membersihkan meja dan lantai tetapi tak
akan cukup untuk menutupi aurat kita. Cukupkah?
Cukupkah ibadahku untuk mengharap syafa`at beliau
kelak di kemudian?

sahabat,...
ketika kita bersedih tentang penderitaan
saudara-saudara kita nun jauh disana
ketika kita marah atas penindasan pada saudara-saudara
kita disana
ketika kita menangis atas syahidnya sudara kita
disana,...
tapi kita menjadi buta,...
buta akan tetangga kita
buta akan saudara kita disini,..
disini,... diperempatan jalan, di dalam bis kota, di
sekitar tempat pembuangan sampah,.
mereka saudara kita sahabat,...
saudara kita yang terlupakan,..
padahal mereka juga merintih,... mereka juga
menangis,. mereka juga tertindas,... tertindas oleh
keadaan
lihatlah sahabat,....
lihat anak kecil itu,....
anak kecil itu berlari-lari di perempatan sambil
melantunkan nyanyian
lihatlah saudara kita yang menyebarkan kotak amal di
bis kota
lihalah saudara kita yang mengais rejeki sambil
mengorek sampah
lihatlah seorang bayi yang di tetek ibunya dipinggir
jalan berdebu
terlihatkah sahabat kita yang menenteng sebuah
proposal untuk sebuah yayasan yatim piatu
nampakkah saudara kita yang menjual famplet untuk
kehidupan sekumpulan kaum fakir?
masihkah kita bisa melihat mereka sahabat??

sahabat,..
kita terlalu dininabobokan oleh mimpi,..
mimpi bahwa kita akan kembali berjaya
mimpi bahwa kita pernah menaklukkan andalusia
mimpi bahwa kita pernah menguasai daratan eropa
padahal kita sekarang tertindas,..
tertindas di negeri sendiri,..
negeri yang masih mendengarkan adzan di Subuh hari
negeri yang masih menyedian waktu untuk saling
bertausiyah
saling mengingatkan dan saling menjaga ukhuwah

sahabat,....
dulu masih sering ku dengar dan kulakukan melantun
sebuah syair tentang ketidak berdayaan,..
setiap Subuh dan setelah Jumat, kudengar dan
kulantunkan sebait syair,.

ilahi lastu lil firdausi ahla
wa laa aqwa alaan naril jahiimi
fa habli tauubatan, wa ighfir dunubi
fa innaka ghafirund danbil adzimi

Allah kami bukan ahlinya syurga-Mu
namun kami tidak kuat keneraka-Mu
terima taubat kami, ampunkan dosa kamu
jadikanlah kami orang yang terampuni

sebuah syair akan tentang ketidak berdayaan
yang mengingatkan kita akan ke-takabur-an ke-ria-an
diri kita

semoga masih ada waktu untuk kita merenungi dan
memperbaiki diri
semoga sahabat....

Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh