Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
0

Sakit Membawa Nikmat

Minggu, 11 Januari 2015



                        "Sakit Membawa Nikmat"
                                              

Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 155). Begitu banyak hal yang tidak kita inginkan tiba-tiba datang menimpa. Karena belum tahu ilmunya, semua itu sering menyebabkan tertekannya perasaan yang berujung pada penderitaan. Di antara hal yang biasa mendatangi kita adalah penyakit. Ya, saat-saat kita ditimpa sakit.
Adalah sesuatu yang lazim bila sebagian kita jatuh mengeluh tatkala sakit. Tubuh lunglai, wajah kuyu, dan pudar cahayanya. Padahal, semakin banyak kita mengeluh, maka akan semakin terasa pula sakitnya. Yang paling membahayakan adalah bila pikiran kita tidak terkuasai dengan baik. Biasanya menerawang jauh, realitas yang ada didramatisasi, segalanya dipersulit dan dikembangkan, hingga makin parah dan menegangkan.
Orang yang terkena gejala tumor misalnya, akan menjadi sengsara jika yang menjadi buah pikirannya adalah sesuatu yang lebih mengerikan dari kondisi sebenarnya. Ah, jangan-jangan tumor ganas. Bagaimana kalau merambat ke seluruh tubuh, sehingga harus dioperasi? Lalu, bagaimana kalau operasinya gagal? Belum lagi biayanya yang pasti akan sangat mahal. Bila hal ini terjadi, maka orang tersebut akan jauh lebih menderita daripada kenyataan sebenarnya. Hal ini terjadi karena kesalahan cara berpikir. Ia belum paham terhadap hikmah dari penyakit yang menimpanya, sehingga salah dalam menyikapinya.
Hasilnya jelas: rugi dunia akhirat. Sikap mental semacam ini tentu harus segera kita atasi. Memang benar badan kita harus sehat, karena hanya dengan badan sehatlah gerak hidup kita menjadi lancar. Kalau pun tubuh kita harus sakit, suatu saat nanti, maka hati kita harus tetap berfungsi dengan baik. Bagaimana cara menyiasatinya? Pertama, kita harus yakin bahwa hidup kita akan selalu dipergilirkan. Boleh jadi sekarang kita sehat, tapi esok hari kita sakit. Ini adalah sebuah keniscayaan. Allah SWT berfirman, Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 155). Kedua, kita harus yakin bahwa segala yang ada dan yang terjadi di dunia ini ada dalam genggaman Allah SWT.
Kenyataan ini digambarkan dalam Alquran, Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang) dan (mengetahui pula) hari (saat manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. An-Nuur: 64). Alam semesta berikut isinya benar-benar milik Allah SWT. Dialah yang menciptakan, mengatur, dan mengurusnya setiap saat. Sedangkan kita, jangankan membuat, menggambarnya saja sudah tidak mampu. Sekali lagi, semuanya ada dalam genggaman Allah SWT. Dan Allah SWT bisa berbuat apa saja yang Dia kehendaki, tanpa dapat dicegah, ditolak, dan dihalangi siapa pun.
Begitu pula kalau Dia menghendaki kita sakit. Itu adalah hal yang wajar, karena tubuh kita adalah milik Allah SWT. Kenapa kita harus kecewa dan protes? Ibarat seseorang menitipkan baju miliknya kepada kita. Kalau suatu saat diambil kembali, maka sangat tidak layak bila kita menahannya. Alangkah baiknya bila kita memilih ridha saja dalam menerima semua yang terjadi. Segala kekecewaan, penyesalan, dan keluh-kesah, sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah. Tugas kita adalah ridha akan ketentuan-Nya dan berikhtiar seoptimal mungkin untuk berobat. Ketiga, kita harus yakin bahwa Allah itu sangat adil dan bijaksana dalam menentukan sesuatu hal bagi makhluk-Nya. Allah SWT Mahatahu akan keadaan tubuh kita. Semua yang ditimpakan kepada kita sudah diukur dengan sangat sempurna dan mustahil "over dosis".
Dalam Alquran disebutkan, Allah SWT tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapatkan pahala dari kebaikan yang diusahakannya dan mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya (QS. Al-Baqarah: 286). Karena itu, sangat tidak tepat bila kita membebani pikiran dengan mendramatisasi masalah apalagi sampai berburuk sangka kepada Allah SWT. Tentu, akan lebih baik bila kita kerahkan segala potensi yang ada untuk meraih hikmah di balik semua kejadian. Sahabat, bila kita telah memahami hikmahnya, maka sakit adalah sebuah takdir yang sangat menguntungkan karena akan menggugurkan dosa-dosa kita. Bukankah kita selalu merindukan ampunan-Nya? Inilah salah satu bentuk pengabulan doa-doa kita tersebut.
Rasulullah SAW bersabda, "Ketika seseorang ditimpa penderitaan (sakit), maka Allah mengutus dua malaikat kepadanya. Dia berfirman, 'Dengarkanlah apa kata hamba-Ku ketika ditengok orang-orang'. Jika ia mengucapkan alhamdulillah, maka Allah berfirman kepada dua malaikat tersebut, 'Sampaikanlah kepadanya, jika Aku mematikannya karena penyakitnya, maka ia pasti masuk syurga; dan jika Aku sembuhkan, maka pasti daging dan darahnya akan Aku ganti dengan yang lebih baik dari asalnya, serta Aku jadikan penderitaan (penyakitnya) sebagai penebus dosa-dosanya" (HR. Al-Faqih). Hikmah lainnya, sakit bisa dijadikan sebagai sarana bertafakur. Betapa tidak? Dengan sakit, kita dapat terhindar dari kemaksiatan yang mungkin akan kita lakukan dalam keadaan sehat.
Kita menjadi insyaf akan betapa penting dan mahalnya harga kesehatan yang seringkali kita sia-siakan ketika sehat. Selain itu, sakit pun bisa menjadi jalan rezeki bagi para dokter dan petugas kesehatan, sekaligus menjadi ladang amal bagi mereka bila ikhlas. Sedangkan bagi kita, berobat akan menjadi ladang pahala ikhtiar. Soal sembuh tidaknya, serahkanlah pada Allah semata. Insya Allah, pahala ikhtiar akan kita dapatkan sepanjang ikhtiar yang kita lakukan sesuai dengan ketentuan-Nya. Semoga Allah senantiasa menjaga, melindungi, serta memelihara kita dari prasangka buruk terhadap segala ketentuan-Nya. Semoga pula kita diberi kekuatan untuk mampu menikmati semua ketentuan yang Dia tetapkan pada kita. Wallahu a'lam bish-shawab.

0

Belajar Dari Wajah



                           "Belajar Dari Wajah"
                                             


Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Menarik sekali jika kita terus-menerus belajar tentang fenomena apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini. Salah satunya adalah wajah. Wajah? Ya, wajah. Wajah bukan hanya masalah bentuk, yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

Ketika pagi menyingsing misalnya, tekadkan dalam diri, ''Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu bagaimana?'' Karena, pasti hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang.

Saat berjumpa dengan orang, kita bisa belajar ilmu tentang wajah, karena setiap wajah memberikan dampak yang berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Menakutkan? Mengapa? Apakah karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil, tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

Aa pernah berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram. Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air menyegarkan pada siang hari.

Kalau hari ini kita berhasil menemukan wajah seseorang yang menenteramkan, maka cari tahu mengapa dia bisa memiliki wajah seperti itu. Tentu kita akan menaruh hormat kepada dia. Betapa senyumannya yang tulus, pancaran wajahnya tampak sekali ia ingin membahagiakan siapa pun yang menatapnya. Sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap raut wajah yang berlawanan? Wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Ini pun perlu kita pelajari.

Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan dan menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak menenteramkan. Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah, raut seperti apakah yang ada di wajah ini?

Memang, ada di antara hamba-hamba Allah yang bibirnya didesain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapa pun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.

Bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, agar lebih ikhlas lagi. Karena senyum bukan sekadar mengangkat ujung bibir saja, tapi yang utama adalah keinginan membahagiakan orang lain. Rasulullah SAW memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang ditemuinya sehingga orang itu merasa puas. Diriwayatkan, bila ada orang yang menyapanya, Rasul menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama, sesuai kadar kemampuannya.

Walhasil, ketika Rasul berbincang dengan siapa pun, maka orang yang diajak berbincang itu senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang dan bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang ia contohkan. Hal itu berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

Kemuramdurjaan, ketidakenakan, dan kegelisahan itu muncul karena kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita sebagai yang paling utama. Makanya, kita sering melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh dan daya pancar yang kuat.

Karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah. Tentu bukan untuk meremehkan, tapi mengambil teladan wajah yang baik dan menghindari yang tidak baik. Lalu praktikkan dalam perilaku sehari-hari. Selain itu, belajarlah untuk mengutamakan orang lain, walaupun hanya sesaat saja. Wallahu a'lam.

0

Penciptaan Langit Dan Bumi



                                                         "Pernahkah kita memikirkannya ?"
                                                                                 


 
                                                     
                         Bismillaahirrahmaanirrahiim
 
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
neraka". (QS. Ali Imran 3:190-191)
                                                                                     

Assalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh

Coba perhatikan dirimu, wahai sahabatku !
Rupa wajahmu, mata indahmu, senyum manismu,
Subhanallah..
Adakah insan yang sama sepertimu di belahan dunia ini
?
Baik rupa, sifat maupun wataknya ?
Tidak ada, bukan ?!
Yach..tidak ada seorangpun yang sama sepertimu, walau
dirimu kembar sekalipun !
Dari sekian banyak manusia, dari sekian triliun jiwa
Pernahkah engkau temui ada yang sama satu dengan
lainnya ?
Tidak ada bukan ?!
Apa yang terlintas di pikiranmu ?
Allah !

Yach..Maha Besar Allah..
Betapa Maha Kaya_Nya Dia..
Tak seorangpun yang patut dipuji selain Diri_Nya..!
Tidak ada sedikitpun yang pantas kita sombongkan atas
diri kita,
Begitupun terhadap makhluk-makhluk_Nya.
Subhanallah..walhamdulillah..walaa ilaa
hailallah..wallaahu akbar..!

Kita ini dulu hanyalah dari setetes air mani yang
hina, menjadi segumpal darah, kemudian menjadi
segumpal daging, tulang, kemudian dibalut dengan
kulit, sehingga jadilah kita, manusia, makhluk yang
amat sempurna penciptaan_Nya.
Betapa kita harus bersyukur, bukan ?
Apa yang terucap di bibirmu ?
Allah !

Diri kita hanyalah satu dari sekian banyak makhluk
yang Ia ciptakan, sahabatku..
Keciiil, tiada artinyanya sama sekali dibandingkan
dengan penciptaan langit dan bumi ini ! Pernahkah kita
memikirkannya ?

Allah menundukkan matahari dan bulan untuk kita,
Matahari bersinar, bulan bercahaya..
Tidak mungkin bagi matahari mengejar bulan, dan malam
mendahului siang
Masing-masing beredar menurut garis edarnya.
Pernahkah kita memikirkannya ?..

Allah menghamparkan bumi dan meletakkan gunung-gunung
yang kokoh, dan menumbuhkan tumbuhan darinya segala
macam jenis tanaman yang indah dipandang mata.
Pernahkah kita memikirkannya?

Allah menurunkan air dari langit yang banyak
manfaatnya, lalu menumbuhkan dengan air itu
pohon-pohon dan biji-bijian yang sebagian ada yang
kita makan.
Pernahkah kita memikirkannya ?

Allah memberi kita minum dari apa yang berada dalam
perut binatang ternak berupa susu yang bersih antara
tahi dan darah, yang enak ditelan bagi orang-orang
yang meminumnya. Pernahkah kita memikirkannya ?

Allah menundukkan langit dan dunia ini untuk kita,
Langit sebagai atap, Bumi tempat menetap
Pernahkah kita memikirkannya ?

Semuanya patuh pada apa yang diperintahkan Allah
kapadanya untuk melayani kita.
Pernahkah kita memikirkannya ?

Pernahkah terpikir jika semua itu tidak ditundukkan
Allah untuk kita, alamat dunia ini akan hancur ?
Dapatkah kita bayangkan apa yang akan terjadi ?
Pernahkah terpikir oleh kita, jika Allah lelah ataupun
lengah sesaat, maka seluruh yang ada di jagat raya ini
akan binasa ?!

Adakah orang yang mengetahui dengan tidak mengetahui ?
Adakah sama yang buta dengan yang melihat ?

Fenomena alam ini menunjukkan betapa Kuasa_Nya Allah
akan segala sesuatu.
Kelak suatu saat nanti langit itu akan pecah berderai.
Kelak suatu hari nanti bumi itu akan terbelah-belah
mengeluarkan apa yang dikandungnya.
Tidak takutkah kita ?, Tidak tergetarkah Qalbu dan
jiwa kita ?
Tidak bertambahkan keimanan, kecintaan serta kerinduan
kita pada_Nya ?

Tanpa kita sadari, silih bergantinya siang dan malam
dari detik menit kehidupan ini menyadarkan kita.

Baru saja kita lahir menjadi seorang bayi mungil,
tahu-tahu sudah sebesar ini.
Baru saja kita merasa tentram berdekatan dengan
orang-orang yang kita sayang, tahu-tahu mereka telah
pergi meninggalkan kita.
Baru saja kita tertidur dan terjaga, kemudian ?
Kita dapati tubuh ini sudah tua, tenaga sudah mulai
berkurang, rambut sudah mulai beruban, mata sudah
mulai rabun..dan..???
Siap-siap untuk pulang, kembali kepada siapa Yang
Menciptakan kita.
Tidakkah kita merindukan_Nya? Pernahkah kita
memikirkannya ?..

Pada suatu hari diwaktu shubuh, Setelah
mengumandangkan azan di Masjid Madinah, lama Bilal
menanti kehadiran Rasulullah keluar dari peraduannya
untuk shalat berjamaah, namun Rasul belum juga muncul.
Karena itu, pergilah Bilal menemuinya, antara perasaan
cemas kalau-kalau Rasul yang amat dicintainya jatuh
sakit.

Sesudah minta izin kepada Siti Aisyah, Bilal segera
menuju ke kamar tidur Rasulullah. Ketika sampai dimuka
pintu, Bilal melihat ke dalam, kamar yang sederhana
tanpa ada kasur tebal seperti kasur kita di sini,
tidak ada bantal bersulam yang indah melainkan hanya
seonggok rumput kering di sudut, itulah kekayaan Rasul
kita, sebagai Pemimpin Dunia yang telah menggerakkan
revolusi yang paling berhasil dalam sejarah
kemanusiaan selama dunia berkembang.

Didapatinya Nabi kita Saw sedang duduk di atas sajadah
menghadap Qiblat, menangis tersedu-sedu. Bertanya
Bilal, "Ya Nabiyallah, apakah gerangan yang
menyebabkan dikau menangis? Padahal kalau ada juapun
kesalahanmu, baik dahulu ataupun nanti, akan diampuni
oleh Allah".

Kemudian Rasulullah menjawab, "Wahai Bilal, tengah
malam telah datang Jibril membawa wahyu kepadaku dari
Allah Swt, demikian bunyinya." :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
neraka. (QS. Ali Imran 3:190-191)

Sengsara hai Bilal! Ujar Nabi selanjutnya, bagi orang
yang membaca akan ayat ini lalu tidak difikirkannya.

Apa maksud Rasulullah Saw tersebut, wahai sahabatku ?

Firman Allah dalam QS. Ali Imran 3 : 190-191 di atas
dan ungkapan Nabi tersebut mengandung makna yang dalam
bagi kita untuk senantiasa merenung dan memikirkan
Fenomena alam yang ada di sekeliling kita.

Jiwa yang suci bersih dapatlah mendengar dan melihat
indahnya alam ini. Disana terdapat tiga sifat Tuhan,
yaitu Jamal (indah), Jalal (agung), dan Kamal
(sempurna). Semua yang ada ini adalah dinding pembatas
kita dengan Dia. Tetapi bilamana kita berusaha
menembusnya (dengan sekuat jiwa) insya Allah, dengan
penglihatan ruhani yang bersih, niscahya terbukalah
hijab itu. Hanya mata yang lahir ini saja yang melihat
batas itu, melihat berbagai fenomena alam
Gunung menjulang tinggi, deburan ombak, awan berarak,
kembang bermekaran. Adapun mata ruhani mulailah
menembus dinding itu. Bukan dinding lagi yang
kelihatan, tetapi pencipta dari semuanya itu, "Allah".

"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari
siksa neraka".

Billaahi taufiq walhidayah
Wassalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatu