* Wali Allah dan Wali Syaithon *
Perbedaan antara wali-wali Allah dan
wali-wali syaithon
Anggapan yang telah menyebar di kaum muslimin
pada umumnya, terutama yang ada
di Indonesia bahwasanya yang disebut wali
Allah adalah orang-orang yang memiliki
kekhususan-kekhususan yang tidak dimiliki
oleh orang-orang biasa. Yaitu mampu
melakukan hal-hal yang ajaib yang disebut
dengan karomah para wali. Sehingga
jika ada seseorang yang memiliki ilmu yang
tinggi tentang syari’at Islam namun
tidak memiliki kekhususan ini maka
kewaliannya diragukan. Sebaliknya jika ada
seseorang yang sama sekali tidak berilmu
bahkan melakukan hal-hal yang dilarang
oleh Allah
dan meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh
Allah , namun dia mampu menunjukan
keajaiban-keajaiban (yang dianggap karomah)
maka orang tersebut bisa dianggap sebagai
wali Allah .
Hal ini disebabkan karena kaum muslimin
(terutama yang di Indonesia) sejak kecil
telah ditanamkan pemahaman yang rusak ini.
Apalagi ditunjang dengan
sarana-sarana elektronik seperti adanya
film-film para sunan yang menggambarkan
kesaktian para wali. Tentunya hal ini adalah sangat berbahaya yang bisa
menimbulkan rusaknya aqidah kaum muslimin.
Ketahuilah Allah telah menjelaskan dalam kitab-Nya dan sunnah
Rosul-Nya
bahwasanya Allah memiliki wali-wali dari golongan manusia dan
demikian pula
syaithon juga memiliki wali-wali dari
golongan manusia. Maka Allah membedakan
antara para wali Allah dan para wali
syaithon. Sebagaimana firman Allah :
Allah adalah wali (penolong) bagi
orang-orang yang beriman. Allah mengeluarkan
mereka dari kegelapan-kegelapan kepada
cahaya. Dan orang-orang kafir
penolong-penolong mereka adalah thogut yang
mengeluarkan mereka dari cahaya
kepada kegelapan-kegelapan. (Al-Baqoroh :
256)
Jika engkau membaca Al-Qur’an maka
berlindunglah kepada Allah dari (godaan)
syaithon yang terkutuk. Sesungguhnya tidak
ada kekuatan baginya terhadap
orang-orang yang beriman dan mereka
bertawakal kepada Rob mereka. Hanyalah
kekuatannya terhadap orang-orang yang
berwala’ kepadanya dan mereka yang
dengannya berbuat syirik. (An-Nahl :98-100)
Dan
barangsiapa yang menjadikan syaithon sebagai wali selain Allah maka dia
telah merugi dengan kerugian yang nyata
(An-Nisa’ : 119)
Orang-orang yang beriman berperang di jalan
Allah dan orang-orang kafir
berperang di jalan thogut. Maka perangilah
para wali-wali syaithon sesungguhnya
tipuan syaithon
itu lemah. (An-Nisa’ : 76)
Maka wajib bagi kita untuk membedakan manakah
yang merupakan wali-wali Allah dan
manakah yang merupakan wali-wali syaithon,
sebagaimana Allah dan Rosulullah
membedakannya.
Definisi wali
Wali diambil dari lafal al-walayah yang
merupakan lawan kata dari al-‘adawah.
Adapun arti dari al-walayah adalah
al-mahabbah (kecintaan) dan al-qorbu
(kedekatan). Sedangkan arti al-‘adawah
adalah al-bugdlu (kebencian) dan al-bu’du
(kejauhan). Sedangkan wali artinya yang
dekat.
Siapakah yang disebut wali Allah ?
Yang disebut wali Allah adalah orang yang
dia mencintai Allah dan dekat dengan
Allah . Dan orang seperti ini harus
memiliki sifat-sifat berikut :
Dia harus ittiba’ (mengikuti) Nabi ,
menjalankan perintah Nabi dan menjauhi
larangan-larangan beliau. Berdasarkan
firman Allah :
Katakanlah :”Jika kalian mencintai Allah
maka ikutlah aku maka Allah akan
mencintai kalian” (Ali Imron :31)
Ayat ini merupakan ayat ujian yang turun
untuk menguji orang-orang yang mengaku
mencintai Allah (termasuk di dalamnya orang yang mengaku dia
adalah wali
Allah). Jika dia benar mengikuti Nabi maka kecintaannya kepada Allah adalah
benar, dan jika tidak maka cintanya adalah
dusta.
Dia harus bersifat lembut kepada kaum
muslimin dan keras kepada kaum kafir, dan
berjihad di jalan Allah dan tidak takut
dengan celaan orang-orang yang mencela,
sesuai dengan firman Allah :
Wahai orang-orang yang beriman barang siapa
dari kalian yang murtad dari
agamanya, maka kelak Allah akan
mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai
mereka dan mereka mencintai Allah yang
bersifat lemah lembut kepada orang-orang
mukmin, yang bersifat keras terhadap
orang-orang kafir, yang berjihad di jalan
Allah dan tidak takut dengan celaan orang
yang mencela.(Al-Maidah : 54)
Dia harus bertaqwa dan beriman, yaitu
beriman dengan hatinya dan bertaqwa dengan
anggota tubuhnya, sesuai dengan firman
Allah:
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu
tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak pula mereka bersedih
(hati). (Yaitu) orang-orang
yang beriman
dan mereka selalu
bertaqwa. (Yunus : 62,63)
Maka barangsiapa
yang mengaku sebagai wali Allah namun tidak memiliki
sifat-sifat ini maka dia adalah pendusta.
Namun perlu diperhatikan bukanlah syarat
seorang wali dia harus ma’sum (tidak
pernah berbuat salah), dan tidak pula dia
harus menguasai seluruh ilmu syari’at.
Bahkan boleh baginya tidak mengetahui
sebagian syari’at atau masih samar baginya
sebagian perkara agama. Oleh karena itu
tidak wajib bagi manusia untuk mengimani
seluruh apa yang dikatakan oleh seorang
wali Allah sehingga dia tidak menjadi
seorang Nabi , tetapi seluruh yang
dikatakannya dikembalikan kepada ajaran
Muhammad . Jika sesuai, maka perkataannya
diterima dan jika tidak, maka ditolak.
Dan jika tidak diketahui apakah sesuai atau
tidak dengan ajaran Nabi maka
tawaquf Dan inilah sikap yang benar kepada
wali Allah. Adapun sikap yang salah
kepada wali Allah yaitu membenarkan semua
apa yang diucapkan dan yang
dilakukannya, atau sebaliknya jika melihat
dia mengatakan atau melakukan sesuatu
yang menyelisihi syari’at maka langsung
mengeluarkan dia dari kewaliannya.
Umar bin khottob adalah contoh seorang wali
Allah, yang Rosulullah bersabda
tentangnya :
Pada umat-umat sebelum kalian ada
orang-orang yang muhaddatsun (yang mendapatkan
berita ghoib atau sejenis ilham dari Allah).
Kalaupun ada di kalangan umatku
satu orang, maka dia adalah Umar.
Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran
pada lisan Umar dan pada hatinya.
Kalaulah ada nabi setelahku maka dia adalah
Umar.
Hadits-hadits ini jelas menunjukan
bahwasanya Umar adalah seorang wali
Allah,
bahkan beliau mendapatkan ilham dari Allah.
Namun hal ini tidak menunjukan bahwa
Umar
harus ma’sum (terjaga dari kesalahan). Kesalahan yang pernah beliau
lakukan diantaranya
a. Yaitu Nabi berumroh pada tahun ke enam Hijroh bersama
sekitar 1400 kaum
muslimin –mereka itu yang berbai’at di
bawah pohon- dan Nabi telah mengadakan
perjanjian damai dengan kaum musyrikin
setelah melalui perundingan dengan kaum
musrikin tersebut untuk kembali ke Madinah
pada tahun ini dan berumroh pada
tahun yang akan datang. Dan Nabi memberi beberapa syarat terhadap mereka yang
dalam syarat-syarat tersebut ada tekanan
kepada kaum muslimin secara dzohir,
sehingga hal itu memberatkan kebanyakan
kaum muslimin, sedangkan Allah dan
Rosul-Nya lebih mengetahui dengan maslahat
yang ada di balik itu. Dan Umar
termasuk orang yang tidak setuju dengan hal
itu, lalu berkata kepada Nabi
:”Wahai Rosulullah, bukankah kita di atas
kebenaran dan musuh kita di atas
kebatilan ?”, maka Nabi menjawab :”Benar”, lalu Umar berkata lagi
:”Bukankah
orang-orang yang terbunuh diantara kita
masuk ke dalam surga dan orang-orang
yang terbunuh di antara mereka masuk ke
dalam neraka?”, Nabi menjawab :”Benar”.
Umar
berkata :”Kenapa kita merendahkan agama kita?”, Nabi berkata :”Aku
adalah
Rosulullah dan Allah adalah penolongku dan
aku bukanlah orang yang bermaksiat
kepadanya.”, Umar berkata :”Bukankah engkau berkata kepada kami
bahwa kita kita
akan mendatangi baitulloh dan berthowaf ?”,
Nabi berkata :”Benar”. Nabi berkata
lagi:”Apakah aku mengatakan kepadamu
sesungguhnya engkau akan mendatanginya pada
tahun ini?”, Umar berkata :”Tidak”, Nabi berkata :”Sesungguhnya engkau akan
mendatanginya dan berthowaf.”
Umar pun mendatangi Abu Bakar dan berkata kepadanya sebagaimana
perkataannya
kepada Rosulullah. Dan Abu Bakar pun menjawab sebagaimana jawaban Rosulullah ,
padahal dia tidak mendengar jawaban
Rosulullah . Dan Abu Bakar adalah orang
yang lebih sering sesuai dengan Allah dan
Rosul-Nya dari pada Umar , dan Umar
mengakui kesalahannya dan berkata :”Aku
benar-benar akan mengamalkannya”
b. Ketika Nabi wafat, Umar mengingkari kematian Nabi . Namun
tatkala Abu Bakar
berkata :”Sesungguhnya dia telah wafat”,
maka Umar pun menerimanya.
c. Ketika Abu Bakar memerangi orang-orang yang enggan membayar
zakat, maka Umar
berkata kepada Abu Bakar :”bagaimana bisa kita memerangi manusia,
sedangkan
Rosulullah bersabda :”Aku diperintahkan
untuk memerangi manusia sampai mereka
bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang
berhak disembah kecuali Allah dan aku
adalah Rosulullah. Apabila mereka mengakui
hal ini maka terjagalah darah-darah
dan harta-harta mereka, kecuali dengan
haknya””, maka Abu Bakar berkata
:”Bukanlah Rosulullah bersabda “kecuali
dengan haknya”?, sesungguhnya zakat
termasuk haknya. Demi Allah kalau mereka
itu menolak untuk membayar zakat
kepadaku yang mereka membayarnya kepada
Rosulullah maka aku akan memerangi
mereka karena ketidakmauan mereka”. Berkata
Umar ”Demi Allah tidaklah ada,
kecuali aku melihat Allah telah melapangkan
dada Abu Bakar untuk memerangi
(orang-orang yang enggan membayar zakat),
maka aku mengetahui bahwasanya dia
adalah benar”
Faidah yang bisa
diambil dari kisah ini adalah:
a. Seorang wali tidak ma’sum, bisa berbuat
salah, bahkan berkali-kali.
b. Seorang wali bisa memiliki karomah
sebagaimana Umar yang mendapat ilham dari
Allah.
c. Tidak berarti seseorang yang mendapat
karomah berarti lebih mulia daripada
wali Allah yang tidak ada karomahnya.
Sebagaimana Abu Bakar jelas lebih mulia
daripada Umar , namun dia tidak mendapatkan
ilham dari Allah
d. Seorang wali tetap harus melaksanakan
kewajiban-kewajiban yang telah
ditetapkan oleh Allah dan Rosul-Nya dan menjauhi larangan-larangan
Allah dan
Rosul-Nya. Sebagaimana Umar yang tetap melaksanakan perintah Allah
e. Walaupun
seorang wali, tapi perkataan dan perbuatannya harus ditimbang dengan
Al-Kitab dan Sunnah Nabi yang ma’sum.
Sebagaimana ucapan Umar dikembalikan
(ditimbang) oleh Abu Bakar dengan Sunnah
Nabi. Berkata Yunus bin Abdil A’la
As-Shodafi : Saya berkata kepada Imam
Syafi’i : “Sesungguhnya sahabat kami
–yaitu Al-Laits-
mengatakan :”Apabila engkau melihat seorang bisa berjalan di
atas (Permukaan)
air, maka janganlah engkau anggap dia sebelum engkau teliti
keadaan (amalan-amalan) orang tersebut,
apakah sesuai dengan Al-Kitab dan
As-Sunnah.”, lalu Imam Syafi’i berkata
:”Al-Laits masih kurang, bahkan kalau
engkau melihat sesseorang bisa berjalan di
atas air atau bisa terbang di udara,
maka janganlah engkau anggap ia sebelum
engkau memeriksa keadaan (amalan-amalan)
orang trsebut apakah sesuai dengan Al-Kitab
dan As-Sunnah”.
Sehingga tidaklah benar anggapan bahwa
Aresto adalah wali Allah karena Aresto
adalah mentrinya Iskandar yang kafir
(karena tidak ada wali Allah dari orang
kafir), yang sebagian orang (diantaranya
Ibnu Sina) menyangka bahwa Iskandar
adalah Dzulqornain.
f. Seorang wali yang telah jelas bahwasanya
perkataan atau perbuatannya
menyelisihi Sunnah Nabi, maka dia harus
kembali kepada kebenaran. Dan dia tidak
menentangnya. Sebagaimana Umar , beliau
tidak membantah Abu Bakar dengan
berkata :”Tapi saya kan wali, saya kan
mendapat ilham dari Allah, saya kan
dijamin masuk surga, dan kalian harus
menerima perkataan saya”
g. Seorang wali harus mematuhi syari’at
Muhammad. Para Nabi saja kalau hidup
sekarang harus mengikuti syari’at
Muhammad apalagi para wali. Karena jelas para
Nabi lebih
bertaqwa daripada para wali dari selain Nabi. Ibnu Mas’ud t berkata
:”Tidaklah Allah
mengutus seorang nabipun kecuali Allah mengambil perjanjiannya,
jika Muhammad telah diutus dan nabi tersebut masih hidup
maka nabi tersebut
harus benar-benar beriman kepadanya dan
menolongnya. Dan Allah memerintah Nabi
tersebut untuk mengambil perjanjian kepada
umatnya kalau Muhammad telah diutus
dan mereka (umat nabi tersebut masih) hidup
maka mereka akan benar-benar beriman
kepadanya dan menolongnya.”
h. Seorang wali tidak boleh menyombongkan
dirinya dengan mengaku-ngaku bahwa dia
adalah wali, sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul kitab
yang mereka mengaku
bahwa mereka adalah wali-wali Allah.
Sebagaimana firman Allah : Dan janganlah
kalian menyatakan diri-diri kalian suci.
Dia (Allah) yang lebih mengetahui
tentang orang yang bertaqwa. (An-Najm : 32
)
Orang mengaku dirinya adalah wali maka dia
telah berbuat maksiat kepada Allah
karena telah melanggar larangan Allah ini. Dan orang yang bermaksiat tidak
pantas disebut wali Allah.
Dan juga bukan termasuk syarat sebagai wali
Allah yaitu dia harus memiliki
karomah. Namun karomah merupakan tambahan
kenikmatan yang Allah berikan kepada
siapa saja yang Ia kehendaki dari kalangan
para wali-Nya. Dan wali-wali Allah
tidak memiliki ciri-ciri yang khusus pada
perkara-perkara mubah yang bisa
membedakannya dengan manusia yang lain.
Pakainnya sama, rambutnya sama, dan yang
lainnya juga sama.
Contoh-contoh karomah para wali Allah
1. Amir bin Fahiroh mati syahid, maka
mereka mencari jasadnya namun tidak bisa
menemukannya. Ternyata ketika dia terbunuh
dia diangkat dan hal ini dilihat oleh
Amir bin Thufail. Berkata Urwah:”Mereka
melihat malaikat mengangkatnya”
2. Kholid bin Walid ketika mengepung musuh
di dalam benteng yang kokoh, maka
para musuhpun berkata :”Kami tidak akan
menyerah sampai engkau meminum racun”,
lalu diapun meminum
racun namun tidak mengapa.
3. Sa’ad bin Abi
Waqqos adalah orang yang selalu dikabulkan do’anya. Dan
dengan
do’anya itulah dia berhasil mengalahkan
pasukan Kisro dan menguasai Iroq.
4. Umar bin Khottob, pernah mengutus
pasukan dan beliau mengangkat seorang
pemuda yang bernama Sariyah untuk memimpin
pasukan tersebut. Dan ketika Umar
sedang berkhutbah di atas mimbar, beliau
berteriak :”Wahai Sariyah, gunung !,
wahai Sariyah, gunung !”. Lalu utusan
pasukan tersebut menemui Umar dan berkata
: “Wahai Amirul Mu’minin, kami bertemu
musuh, tiba-tiba ada suara teriakan
:”Wahai Sariyah, gunung!”, lalu kami
menyandarkan punggung-punggung kami ke
gunung kemudian Allah memenagkan kami”.
5. Abu Muslim Al-Khoulani, dia pernah
dicari oleh Al-Aswad Al-‘Anasi yang
mengaku sebagai
nabi. Lalu Al-Aswad bertanya kepada beliau :”Apakah
engkau
bersaksi bahwa saya adalah Rosul Allah?”,
lalu dia berkata :”Saya tidak dengar”,
lalu dia bertanya lagi :”Apakah engkau
bersaksi bahwa Muhammad adalah Rosul
Allah?”, beliau menjawab :”Ya”. Lalu
disiapkan api dan beliau dilemparkan ke
api. Namun mereka mendapatinya sedang
sholat di dalam kobaran api itu, api itu
menjadi dingin dan keselamatan untuknya.
6. Sa’id Ibnul Musayyib, di waktu hari-hari
yang panas, beliau mendengar adzan
dari kuburan Nabi ketika tiba waktu-waktu
sholat, dan mesjid dalam keadaan
kosong (karena
panasnya hari –pent), tidak ada seorangpun kecuali dia.
7. Uwais Al-Qorni
ketika wafat mereka menemukan di bajunya ada beberapa kain
kafan yang
sebelumnya tidak ada, dan mereka juga menemukan lubang yang digali di
padang pasir yang
sudah ada lahadnya. Lalu mereka mengafaninya dengan
kefan-kafan teresbut dan menguburkannya di
lubang tersebut.
8.
Asid Bin Hudlair membaca surat Al-Kahfi lalu turunlah bayangan dari langit
yang ada semacam lentera dan itu adalah
para malaikat yang turun karena
bacaannya. Dan malaikat pernah menyalami
Imron bin Husain . Salman dan Abu
Darda’
makan di piring lalu piring mereka bertasbih atau makanan yang ada pada
piring tersebut bertasbih. Ubbad bin
Busyr dan Asid bin Hudlair kembali dari
Rosulullah pada
malam yang gelap gulita. Maka Allah menjadikan cahaya
bagi
mereka berdua, dan tatkala mereka berpisah
maka terpisah juga cahaya tersebut.
9. Muthorrif bin Abdillah jika memasuki
rumahnya maka tempayan-tempayannya
bertasbih bersamanya. Dia bersama seorang
sahabatnya berjalan di malam hari,
lalu Allah menjadikan cayaha untuk mereka
berdua.
10. Ahnaf bin Qois. Ketika dia wafat, tutup kepala milik seseorang terjatuh di
kuburannya. Lalu orang tersebut mengambil
topinya, dan dia melihat kuburannya
telah menjadi
seluas mata memandang.
11. Utbah Al-gulam, dia meminta kepada
Allah tiga perkara, yaitu suara yang
indah, air mata yang banyak, dan makanan
yang diperoleh tanpa usaha. Dan jika
dia membaca Al-Qur’an maka dia menangis
dengan air mata yang banyak. Dan jika
dia bernaung di rumahnya dia mendapatkan
makanan dan dia tidak tahu dari manakah
makanan tersebut.
Siapakah wali-wali syaithon ?
Allah
berfirman :
Dan
barang siapa yang berpaling dari pengajaran Ar-Rohman, kami adakan baginya
syaithon yang menyesatkan, maka syaithon
itulah yang menjadi teman yang selalu
menyertainya. (Az-Zukhruf : 36)
Apakah akan aku beritahukan kepadamu, kepada
siapkah syaithon-syaithon itu
turun ?, mereka turun kepada tiap-tiap
pendusta lagi banyak dosa. Mereka
menghadapkan pendengaran (kepada syaithon)
itu, dan kebanyakan mereka adalah
pendusta. (As-Syu’aro’ : 221,223)
Contoh-contoh tipuan syaithon
a.Abdullah bin Soyyad. Nabi pernah menguji Ibnu Soyyad (seorang dukun
yang
hidup di zaman Nabi yang dia adalah seorang
Yahudi). Nabi berkata kepadanya
:”(Cobalah tebak) aku menyembunyikan
sesuatu (di hatiku)”. Ibnu Soyyad berkata
:”Ad-Dukh…Ad-Dukh..”. Padahal sesungguhnya Nabi sedang menyembunyikan surat
Ad-Dukhon. Lalu Nabi berkata kepadanya
:”Cih, engkau tidak mampu melampaui
kemampuanmu” Ibnu Soyyad hampir betul
menebak apa yang ada di hati Nabi, dan ini
adalah suatu keajaiban, namun dengan
bantuan syaithon. Karena seorang yang
normal maka dia tidak akan bisa mengetahui
isi hati manusia, bahkan Nabi pun
tidak mengetahui isi hati manusia kecuali
yang diberitahu oleh Allah . Para
sahabat pun (kecuali Hudzifah, karena dia
telah diberitahu oleh Nabi tidak
mengetahui siapa-siapa saja orang munafik
yang ada bersama mereka.
b.Al-Aswad Al-‘Anasi yang mengaku sebagai
nabi. Dia dibantu para
syaithon yang
memberitahukan kepadanya tentang
perkara-perkara ghoib. Dan tatkala kaum
muslimin memeranginya mereka kawatir para
syaithonnya akan mengabarkan kepadanya
apa yang mereka bicarakan tentang dirinya
(yaitu bahwasanya dia akan dibunuh
–pent). Namun istrinya sadar akan kekafiran
suaminya maka diapun menolong kaum
muslimin.
c.Musailamah Al-Kadzdzab yang juga mengaku
sebagai nabi, memiliki
syaithon-syaithon yang memberitahukan
perkara-perkara gho’ib kepadanya dan
membantunya melakukan hal-hal yang ajaib.
Diantaranya dia pernah meludah di
sumur sehingga air sumur tersebut menjadi
melimpah.
c.Al-Harits Ad-Dimasyqi, seorang pembohong
besar yang muncul dan mengaku sebagi
nabi di Syam pada zaman khalifah Abdul
Malik bin Marwan (wafat tahun 86 H).
Al-Harits memiliki kemampuan ajaib. Para
syaithonnya melepaskan kedua kakinya
dari belenggu, dan membuatnya kebal
senjata, dan batu pualam bisa bertasbih jika
dia sentuh dengan tangannya. Dan dia telah
melihat orang-orang dalam keadaaan
berjalan dan naik kuda terbang di udara,
dia berkata : “Mereka adalah malaikat”,
padahal mereka adalah jin. Dan tatkala kaum
muslimin menangkapnya untuk dibunuh,
maka ada orang yang menombaknya di
tubuhnya, namun tidak mempan. Maka Abdul
Malik berkata kepadanya :”Engkau tidak
menyebut nama Allah”. Lalu orang itu
menyebut nama Allah dan berhasil membunuh
Al-harits.
d. Lia ‘Aminuddin, yang mengaku sebagai
Imam Mahdi dan mengaku telah didatangi
oleh Jibril. Keajaiban yang ada padanya
yaitu dia mampu untuk menyembuhkan
berbagai penyakit. Bahkan dia mengaku
adalah seseorang yang memberantas bid’ah
dan kesyririkan.
Syubhat-syubhat
Syubhat pertama
Sesungguhnya Rosulullah diutus kepada
manusia pada umumnya namun tidak pada
manusia-manusia yang khusus yaitu para
wali, dan para wali tersebut tidak butuh
kepada Nabi, mereka memiliki cara
tersendiri untuk mencapai Allah. Sebagaimana
Nabi Musa tidaklah diutus kepada Nabi
Khidir sehingga Nabi Khidir tidak wajib
mengikuti syari’at Musa.
Jawab
Perkataan ini sebagaimana perkataan
kebanyakan para ahlul kitab (Yahudi dan
Nasrani) bahwasanya Rosulullah diutus
kepada orang-orang yang tuna aksara bukan
kepada mereka. Dan pendalilan dengan kisah
antara Khidir dan Musa adalah tidak
tepat, sebab :
a. Bahwasanya Musa tidaklah diutus kepada
Khidir (tetapi hanya diutus untuk bani
Isroil), sehingga Khidir tidaklah wajib
mengikuti Nabi. Adapun Muhammad
risalahnya umum untuk seluruh jin dan
manusia. Bahkan jika ada orang yang lebih
mulia dari Khidir (seperti Ibrohim, Musa,
dan Isa) bertemu dengan Nabi, maka dia
wajib mengikuti Nabi. Apalagi Khidir, tentu lebih wajib lagi.
Oleh karena itu
Khidir berkata kepada Musa : “Aku diatas ilmu yang diajarkan
Allah kepadaku
yang tidak kau ketahui dan engkau di atas ilmu yang Allah
mengajari engkau
yang aku tidak mengetahuinya”. Dan tidak boleh bagi seorangpun
yang sampai
kepadanya risalah Muhammad untuk berkata
sebagaimana perkataan
Khidir ini.
b. Apa yang telah
dilakukan oleh Khidir tidaklah menyelisihi syari’at Musa. Musa
tidaklah mengetahui sebab yang membolehkan
hal-hal itu. Dan ketika Khidir
menjelaskan sebab-sebab tersebut Musa
menyetujuinya. Sehingga berkata Ibnu Abbas
kepada Najdah Al-Harwari ketika dia
bertanya kepada Ibnu Abbas tentang
membunuh
anak-anak kecil: “Jika kamu mengetahui
anak-anak tersebut sebagaimana yang
diketahui oleh Khidir tentang anak kecil
(yang dibunuhnya) maka bunuhlah mereka,
dan jika tidak maka jangan.”
Syubhat kedua
Mereka (para wali syaithon) menganggap
bahwa mereka mendapat wahyu langsung dari
Allah
-sebagaimana yang diserukan oleh Ibnu Arobi-, dan bahwasanya mereka
lebih baik dari
para nabi yang mengambil ilmu dari Allah melalui perantara.
Mereka berkata :”Kenabian telah berakhir
dengan wafatnya Rosulullah, sedangkan
kewalian belum berakhir. Dan yang paling
terakhir adalah yang lebih baik dari
yang sebelumnya”.
Jawab :
Ini adalah pemikiran sesat Ibnu Arobi yang
sama sekali tidak bersandar kepada
dalil. Ketika dia mengetahui bahwa syari’at
ini sudah tidak bisa dirubah lagi
hingga hari kiamat, (dan dia ingin keluar
dari syari’at) maka dia berkata
:”Kenabian telah tertutup, tetapi kewalian
belum”, dan dia menganggap bahwa
kewalian lebih tinggi derajatnya dari pada
kerosulan dan kenabian, sebagaimana
dia berkata :
Kedudukan kenabian berada di alam barzakh,
sedikit di atas (kedudukan) Rosul
dan dibawah (kedudukan) Wali
Hal ini tentunya pemutarbalikan syari’at.
Seharusnya kenabian lebih khusus dari
kewalian dan kerosulan lebih khusus
daripada kenabian. Sehingga kedudukannya
adalah kerosulan lebih tingi daripada
kenabian dan kenabian lebih tinggi
daripada kewalian. Berkata Imam Abul ‘Izz
Al-Hanafi :”Maka siapakah yang lebih
kafir dari memisalkan dirinya dengan sebuah
bata emas dan memisalkan Nabi dengan
bata perak, lalu dia menjadikan dirinya
lebih tinggi daripada Nabi,…….bagaimana
bisa samar
kekufuran dari perkataannya (Ibnu Arobi) ini ?…..dan kekufuran Ibnu
“Arobi lebih
parah dari kekufuran orang-orang yang berkata : “Tidaklah kami
beriman hingga kami diberikan apa yang
diberikan kepada Rosulullah” (Al-An’am :
124)”
Syubhat ketiga
Kami tidak usah menjalankan syari’at karena
Allah telah bersatu dengan kami
para hambanya yang sholih. Bukankah
Allah berkata dalam hadits qudsi :
Dam
hamba-Ku senantiasa bertaqorrub (mendekatkan dirinya) kepada-Ku dengan
amalan-amalan nafilah (sunnah) hingga Aku
mencintainya. Apabila Aku
mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya
yang dia mendengar dengannya, dan
penglihatannya yang dia melihat dengannya,
dan tangannya yang dia memukul
dengannya, dan kakinya yang dia berjalan
dengannya, dan jika dia meminta
kepada-Ku maka akan aku berikan, dan jika
dia meminta perlindungan kepada-Ku
maka aku akan melindunginya.
Jawab : Dzohir hadits ini adalah bukanlah
Allah menjadi pendengarannya,
penglihatannya, tangannya, dan kakinya, tetapi dzohirnya adalah
Allah
meluruskan (memberi petunjuk) kepada
penglihatan, pendengaran, tangan dan
kakinya, sehingga apa yang dilakukan oleh
hamba tersebut selalu dibimbing oleh
Allah. Adapun makna yang batil di atas
adalah tidaklah mungkin, sebab :
- Ini merupakan aqidah wihdatul wujud
(manunggaling kawulo gusti) yang sesat
karena bertentangan dengan ayat-ayat
Al-Qur’an yang muhkam (jelas) yang tidak
bisa lagi
dipalingkan lagi maknanya.
- Barang siapa yang memperhatikan hadits
ini dengan baik maka dia akan faham
tentang batilnya aqidah wihdatul wujud ini.
Dalam hadits ini Allah menetapkan
adanya hamba (yang beribadah) dan ma’bud
(yang diibadahi), yang mendekat
(bertaqorrub) dan yang didekati
(ditaqorrubi), yang dicintai dan yang mencintai,
yang meminta dan yang memberi, yang meminta
perlindungan dan yang memberi
perlindungan. Maka hadits ini menunjukan
adanya dua dzat yang berbeda, yang satu
bukan yang lainnya. Dan bukan pula yang
satu merupakan sifat atau bagian dari
yang lainnya.
- Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki si wali semuanya
adalah sifat-sifat atau bagian-bagian pada
makhluk yang baru tercipta yang
sebelumnya belum ada (belum tercipta). Maka
tidak mungkin bagi siapa saja yang
berakal untuk memahami bahwa pencipta yang
awal (yaitu Allah) yang tidak ada
sebelum Dia sesuatupun, akan menjadi
pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki
makhluk. Bahkan hal seperti inipun sulit
untuk dibayangkan kalaupun kita anggap
benar.
Perbedaan antara karomah wali Allah dan
tipuan wali syaithon
1. Bahwa karomah para wali tersebut
disebabkan oleh keimanan dan ketaqwaan.
Sedangkan keajaiban dan keluarbiasaan lain
yang merupakan bantuan syaithon
disebabkan oleh hal-hal yang merupakan
larangan Allah dan Rosulullah. Jadi
apabila di
dalamnya mengandung unsur-unsur yang disenangi oleh syaithon, baik
itu kemusyrikan,
kedzoliman, atau kebid’ahan, maka jelas yang terjadi pasti
bukan karomah.
2. Karomah tidak
bisa dibatalkan dengan bacaan-bacaan apa saja dan tidak bisa
dilawan. Sedangkan kejadian-kejadian luar
biasa lain yang merupakan bantuan
syaithon bisa dibatalkan dengan
bacaan-bacaan ayat-ayat Allah seperti ayat kursi
dan lain-lain
3. Karomah tidak bisa dipelajari sehingga
menjadi suatu ilmu kedigdayaan yang
baku. Sedangkan kejadian-kejadian luar bisa
yang berasal dari syaithon bisa
dipelajari. Sebagaimana karomah-karomah
yang telah dimiliki oleh para salaf,
tidak ada satu atsarpun yang menunjukan
bahwa mereka pernah mengajarkan karomah
mereka kepada orang lain. Sebagaimana Umar
, beliau tidak pernah mengajarkan
karomahnya kepada orang lain, kerena memang
tidak bisa diajarkan.
4. Karomah pada umumnya tidak bisa
dilakukan terus menerus, tetapi terjadi
sesuai kehendak Allah bukan berdasarkan
kehendak Wali yang mendapatkan karomah
tersebut.
Pengetahuan tambahan :
1. Seluruh orang yang beriman adalah
wali-wali Allah. Dan wali-wali yang paling
mulia adalah para Nabi. Dan para Nabi yang
paling mulia adalah para Rosul. Dan
para Rosul yang paling mulia adalah para
Rosul yang lima (Ulul ‘Azmi), dan
diantara Ulul ‘Azmi yang paling mulia
adalah Nabi Muhammad.
2. Persamaan dan perbedaan antara Mu’jizat
dan karomah.
Persamaannya : Mu’jizat dan karomah
sama-sama merupakan hal yang ajaib yang luar
biasa (yang tidak bisa dilkukan olah orang
biasa) yang Allah berikan kepada para
hambanya.
Perbedaannya
- Mu’jizat hanya berlaku pada para Nabi dan
Rosul, adapun karomah pada para
wali.
- Mu’jizat diperoleh dengan kenabian,
adapun karomah diperoleh dengan ketaqwaan.
- Karomah kedudukannya lebih rendah
daripada mu’jizat.
- Akibat dari mu’jizat adalah baik, adapun
efek samping dari karomah belum
tentu.
- Pemilik
mu’jizat (yaitu para Nabi dan Rosul) menantang orang-orang yang
menyelisihinya,
adapun pemilik karomah tidak demikian.
3. Kita harus
mengakui adanya karomah, tidak sebagaimana mu’tazilah yang
mengingkari karomah dan berkata :”Kalau
kita mengakui karomah, maka akan sama
wali dengan Nabi”, oleh karena itu kami
mengingkari karomah dan juga mengingkari
hakikat sihir. Namun ini tidaklah benar
sebab orang yang memiliki karomah
tidaklah mengaku bahwa dia adalah seorang
Nabi.
4. Dalam beribadah hendaknya kita berniat
karena Allah bukan karena untuk
mencari karomah. Kita meminta kepada Allah
agar bisa istiqomah dalam hidup kita
bukan mencari
karomah. Berkata Abu Ali Al-Jauzaja’i : “Jadilah engkau orang yang
mencari
keistiqomahan, jangan menjadi pencari karomah. Sesungguhnya jiwamu
bergerak
(berusaha) dalam mencari karomah padahal Rob engkau mencari
keistiqomahanmu”.
Berkata Syaikh As-Sahrwardi :”Ucapan ini adalah prinsip yang
agung dalam
perkara ini, karena sesungguhnya banyak mujtahid dan ahli ibadah
mendengar salaf yang sholih, telah diberi
karomat-karomat dan hal-hal yang luar
biasa sehingga jiwa-jiwa mereka (para ahli
ibadah itu) senantiasa mencari
sesuatu dari hal itu (karomah tersebut),
dan mereka ingin diberikan sedikit dari
hal itu, dan mungkin diantara mereka ada
yang hatinya prustasi dalam keadaan
menuduh dirinya bahwa amal ibadahnya tidak
sah karena tidak mendapatkan karomah.
Kalau mereka mengetahui rahasia hal itu
(yaitu Allah tidak menuntut para
hambanya untuk memperoleh karomah, tetapi
yang Allah inginkan para hambanya
beristiqomah
–pent) tentu perkara ini (mencari karomah) adalah perkara yang
rendah bagi mereka.
5. Hukum tenaga dalam, jika diatasnamakan
Islam (biasanya dicampur dengan
dzikir-dzikir asma Allah) maka harom. Kalau
mereka menyatakan bahwa apa yang
mereka lakukan adalah untuk beribadah
kepada Allah, maka kita katakan bahwa ini
adalah bid’ah sebab kenapa harus
menggunakan tata cara dan gerakan-gerakan
khusus yang tidak pernah diajarkan oleh
Allah dan Nabi. Dan tidak ada dalil sama
sekali bahwa dengan bacaan-bacaan dan
gerakan-gerakan khusus yang mereka lakukan
bisa mengahasilkan tenaga dalam. Kalau
mereka mengatakan tujuan mereka untuk
beribadah dan untuk mempeoleh kekuatan, maka
kita katakan bahwa mereka telah
melakukan kesyirikan sebab niat ibadah
mereka selain untuk Allah juga untuk hal
yang lain.
Selain itu perkatek-praktek tenaga dalam
yang ada menyelisihi syari’at
diantaranya :
- Latihannya harus menggunakan emosi, padahal
Rosulullah telah melarang
seseorang untuk emosi, beliau bersabda :
“Janganlah engkau marah”, Rosulullah
mengulanginya beberapa kali “Janganlah
engkau marah”
Rahasia mereka (yang latihan tenaga dalam)
harus marah sebab dengan marah
tersebut syaithon bisa masuk dalam tubuh
mereka sehingga bisa memberi kekuatan
untuk tenaga dalam mereka. Sebagaimana
sabda Rosulullah :
Sesungguhnya syaithon mengalir dalam tubuh
manusia sebagaimana aliran darah.
(Riwayat Bukhori)
- Ketika latihan, mereka sering tidak
sadar, terutama ketika sedang
memprkatekkan jurus mereka. Hal ini sama
saja dengan sengaja membuat diri
menjadi tidak sadar (alias mabuk), dan hal
ini tidak boleh dalam Islam, sebab
Islam menganjurkan kita untuk senantiasa
menjaga akal kita sehingga bisa
senantiasa berdzikir kepada Allah.
- Kadang disertai dengan puasa mutih (tidak
boleh makan kecuali yang
putih-putih), yang ini tidak ada
syari’atnya dalam Islam. Atau untuk menjaga
ilmunya dia harus menghindari
pantangan-pantangan tertentu yang sebenarnya hal
itu dihalalkan baginya sebelum dia memiliki
ilmu tenaga dalam tersebut. Dan ini
berarti mengha“Janganlah engkau
mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah
.
DAFTAR PUSTAKA :
1. Tanya
Jawab Islam dan akidah .. H.M Munawir MA
2, Kisah Wali Allah ...... Kyai H. Bisri
3. Kumpulan
Hadist Rasulullah
0 Responses to "Wali Allah dan Wali Syaiton "
Posting Komentar