0

Wali Allah dan Wali Syaiton

Sabtu, 10 Januari 2015



                                                   * Wali Allah  dan Wali Syaithon *

                                  Perbedaan antara wali-wali Allah dan wali-wali syaithon
  Anggapan yang telah menyebar di kaum muslimin pada umumnya, terutama yang ada
di Indonesia bahwasanya yang disebut wali Allah adalah orang-orang yang memiliki
kekhususan-kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa. Yaitu mampu
melakukan hal-hal yang ajaib yang disebut dengan karomah para wali. Sehingga
jika ada seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi tentang syari’at Islam namun
tidak memiliki kekhususan ini maka kewaliannya diragukan. Sebaliknya jika ada
seseorang yang sama sekali tidak berilmu bahkan melakukan hal-hal yang dilarang
oleh Allah  dan meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh
Allah , namun dia mampu menunjukan keajaiban-keajaiban (yang dianggap karomah)
maka orang tersebut bisa dianggap sebagai wali Allah .  
Hal ini disebabkan karena kaum muslimin (terutama yang di Indonesia) sejak kecil
telah ditanamkan pemahaman yang rusak ini. Apalagi ditunjang dengan
sarana-sarana elektronik seperti adanya film-film para sunan yang menggambarkan
kesaktian para wali. Tentunya hal ini adalah sangat berbahaya yang bisa
menimbulkan rusaknya aqidah kaum muslimin.
Ketahuilah Allah  telah menjelaskan dalam kitab-Nya dan sunnah Rosul-Nya
bahwasanya Allah  memiliki wali-wali dari golongan manusia dan demikian pula
syaithon juga memiliki wali-wali dari golongan manusia. Maka Allah  membedakan
antara para wali Allah dan para wali syaithon. Sebagaimana firman Allah  :
Allah adalah wali (penolong) bagi orang-orang yang beriman. Allah mengeluarkan
mereka dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir
penolong-penolong mereka adalah thogut yang mengeluarkan mereka dari cahaya
kepada kegelapan-kegelapan. (Al-Baqoroh : 256) 
Jika engkau membaca Al-Qur’an maka berlindunglah kepada Allah dari (godaan)
syaithon yang terkutuk. Sesungguhnya tidak ada kekuatan baginya terhadap
orang-orang yang beriman dan mereka bertawakal kepada Rob mereka. Hanyalah
kekuatannya terhadap orang-orang yang berwala’ kepadanya dan mereka yang
dengannya berbuat syirik. (An-Nahl :98-100)
 Dan barangsiapa yang menjadikan syaithon sebagai wali selain Allah maka dia
telah merugi dengan kerugian yang nyata (An-Nisa’ : 119) 
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang kafir
berperang di jalan thogut. Maka perangilah para wali-wali syaithon sesungguhnya
tipuan syaithon itu lemah. (An-Nisa’ : 76)
Maka wajib bagi kita untuk membedakan manakah yang merupakan wali-wali Allah dan
manakah yang merupakan wali-wali syaithon, sebagaimana Allah dan Rosulullah
membedakannya.
Definisi wali
Wali diambil dari lafal al-walayah yang merupakan lawan kata dari al-‘adawah.
Adapun arti dari al-walayah adalah al-mahabbah (kecintaan) dan al-qorbu
(kedekatan). Sedangkan arti al-‘adawah adalah al-bugdlu (kebencian) dan al-bu’du
(kejauhan). Sedangkan wali artinya yang dekat.
Siapakah yang disebut wali Allah ?
Yang disebut wali Allah adalah orang yang dia mencintai Allah  dan dekat dengan
Allah . Dan orang seperti ini harus memiliki sifat-sifat berikut :
Dia harus ittiba’ (mengikuti) Nabi , menjalankan perintah Nabi  dan menjauhi
larangan-larangan beliau. Berdasarkan firman Allah : 
Katakanlah :”Jika kalian mencintai Allah maka ikutlah aku maka Allah akan
mencintai kalian” (Ali Imron :31)
Ayat ini merupakan ayat ujian yang turun untuk menguji orang-orang yang mengaku
mencintai Allah  (termasuk di dalamnya orang yang mengaku dia adalah wali
Allah). Jika dia benar mengikuti Nabi  maka kecintaannya kepada Allah  adalah
benar, dan jika tidak maka cintanya adalah dusta.
Dia harus bersifat lembut kepada kaum muslimin dan keras kepada kaum kafir, dan
berjihad di jalan Allah dan tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela,
sesuai dengan firman Allah : 
Wahai orang-orang yang beriman barang siapa dari kalian yang murtad dari
agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai
mereka dan mereka mencintai Allah yang bersifat lemah lembut kepada orang-orang
mukmin, yang bersifat keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan
Allah dan tidak takut dengan celaan orang yang mencela.(Al-Maidah : 54)
Dia harus bertaqwa dan beriman, yaitu beriman dengan hatinya dan bertaqwa dengan
anggota tubuhnya, sesuai dengan firman Allah: 
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak pula mereka bersedih (hati). (Yaitu) orang-orang yang beriman
dan mereka selalu bertaqwa. (Yunus : 62,63)
Maka barangsiapa yang mengaku sebagai wali Allah namun tidak memiliki
sifat-sifat ini maka dia adalah pendusta.
Namun perlu diperhatikan bukanlah syarat seorang wali dia harus ma’sum (tidak
pernah berbuat salah), dan tidak pula dia harus menguasai seluruh ilmu syari’at.
Bahkan boleh baginya tidak mengetahui sebagian syari’at atau masih samar baginya
sebagian perkara agama. Oleh karena itu tidak wajib bagi manusia untuk mengimani
seluruh apa yang dikatakan oleh seorang wali Allah sehingga dia tidak menjadi
seorang Nabi , tetapi seluruh yang dikatakannya dikembalikan kepada ajaran
Muhammad . Jika sesuai, maka perkataannya diterima dan jika tidak, maka ditolak.
Dan jika tidak diketahui apakah sesuai atau tidak dengan ajaran Nabi  maka
tawaquf Dan inilah sikap yang benar kepada wali Allah. Adapun sikap yang salah
kepada wali Allah yaitu membenarkan semua apa yang diucapkan dan yang
dilakukannya, atau sebaliknya jika melihat dia mengatakan atau melakukan sesuatu
yang menyelisihi syari’at maka langsung mengeluarkan dia dari kewaliannya.
Umar bin khottob adalah contoh seorang wali Allah,  yang Rosulullah bersabda
tentangnya : 
Pada umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang muhaddatsun (yang mendapatkan
berita ghoib atau sejenis ilham dari Allah). Kalaupun ada di kalangan umatku
satu orang, maka dia adalah Umar. 
Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan Umar dan pada hatinya.  
Kalaulah ada nabi setelahku maka dia adalah Umar.
Hadits-hadits ini jelas menunjukan bahwasanya Umar  adalah seorang wali Allah,
bahkan beliau mendapatkan ilham dari Allah. Namun hal ini tidak menunjukan bahwa
Umar  harus ma’sum (terjaga dari kesalahan). Kesalahan yang pernah beliau
lakukan diantaranya
a. Yaitu Nabi  berumroh pada tahun ke enam Hijroh bersama sekitar 1400 kaum
muslimin –mereka itu yang berbai’at di bawah pohon- dan Nabi  telah mengadakan
perjanjian damai dengan kaum musyrikin setelah melalui perundingan dengan kaum
musrikin tersebut untuk kembali ke Madinah pada tahun ini dan berumroh pada
tahun yang akan datang. Dan Nabi  memberi beberapa syarat terhadap mereka yang
dalam syarat-syarat tersebut ada tekanan kepada kaum muslimin secara dzohir,
sehingga hal itu memberatkan kebanyakan kaum muslimin, sedangkan Allah dan
Rosul-Nya lebih mengetahui dengan maslahat yang ada di balik itu. Dan Umar 
termasuk orang yang tidak setuju dengan hal itu, lalu berkata kepada Nabi 
:”Wahai Rosulullah, bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas
kebatilan ?”, maka Nabi  menjawab :”Benar”, lalu Umar berkata lagi :”Bukankah
orang-orang yang terbunuh diantara kita masuk ke dalam surga dan orang-orang
yang terbunuh di antara mereka masuk ke dalam neraka?”, Nabi  menjawab :”Benar”.
Umar  berkata :”Kenapa kita merendahkan agama kita?”, Nabi berkata :”Aku adalah
Rosulullah dan Allah adalah penolongku dan aku bukanlah orang yang bermaksiat
kepadanya.”, Umar  berkata :”Bukankah engkau berkata kepada kami bahwa kita kita
akan mendatangi baitulloh dan berthowaf ?”, Nabi berkata :”Benar”. Nabi  berkata
lagi:”Apakah aku mengatakan kepadamu sesungguhnya engkau akan mendatanginya pada
tahun ini?”, Umar  berkata :”Tidak”, Nabi  berkata :”Sesungguhnya engkau akan
mendatanginya dan berthowaf.”
Umar pun mendatangi Abu Bakar  dan berkata kepadanya sebagaimana perkataannya
kepada Rosulullah. Dan Abu Bakar  pun menjawab sebagaimana jawaban Rosulullah ,
padahal dia tidak mendengar jawaban Rosulullah . Dan Abu Bakar  adalah orang
yang lebih sering sesuai dengan Allah dan Rosul-Nya dari pada Umar , dan Umar 
mengakui kesalahannya dan berkata :”Aku benar-benar akan mengamalkannya”
b. Ketika Nabi  wafat, Umar mengingkari kematian Nabi . Namun tatkala Abu Bakar
berkata :”Sesungguhnya dia telah wafat”, maka Umar  pun menerimanya.
c. Ketika Abu Bakar  memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat, maka Umar
 berkata kepada Abu Bakar  :”bagaimana bisa kita memerangi manusia, sedangkan
Rosulullah bersabda :”Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka
bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku
adalah Rosulullah. Apabila mereka mengakui hal ini maka terjagalah darah-darah
dan harta-harta mereka, kecuali dengan haknya””, maka Abu Bakar  berkata
:”Bukanlah Rosulullah bersabda “kecuali dengan haknya”?, sesungguhnya zakat
termasuk haknya. Demi Allah kalau mereka itu menolak untuk membayar zakat
kepadaku yang mereka membayarnya kepada Rosulullah maka aku akan memerangi
mereka karena ketidakmauan mereka”. Berkata Umar ”Demi Allah tidaklah ada,
kecuali aku melihat Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi
(orang-orang yang enggan membayar zakat), maka aku mengetahui bahwasanya dia
adalah benar”
Faidah yang bisa diambil dari kisah ini adalah:
a. Seorang wali tidak ma’sum, bisa berbuat salah, bahkan berkali-kali.
b. Seorang wali bisa memiliki karomah sebagaimana Umar yang mendapat ilham dari
Allah.
c. Tidak berarti seseorang yang mendapat karomah berarti lebih mulia daripada
wali Allah yang tidak ada karomahnya. Sebagaimana Abu Bakar  jelas lebih mulia
daripada Umar , namun dia tidak mendapatkan ilham dari Allah
d. Seorang wali tetap harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah
ditetapkan oleh Allah  dan Rosul-Nya dan menjauhi larangan-larangan Allah dan
Rosul-Nya. Sebagaimana Umar  yang tetap melaksanakan perintah Allah
e. Walaupun seorang wali, tapi perkataan dan perbuatannya harus ditimbang dengan
Al-Kitab dan Sunnah Nabi yang ma’sum. Sebagaimana ucapan Umar  dikembalikan
(ditimbang) oleh Abu Bakar dengan Sunnah Nabi. Berkata Yunus bin Abdil A’la
As-Shodafi : Saya berkata kepada Imam Syafi’i : “Sesungguhnya sahabat kami
–yaitu Al-Laits- mengatakan :”Apabila engkau melihat seorang bisa berjalan di
atas (Permukaan) air, maka janganlah engkau anggap dia sebelum engkau teliti
keadaan (amalan-amalan) orang tersebut, apakah sesuai dengan Al-Kitab dan
As-Sunnah.”, lalu Imam Syafi’i berkata :”Al-Laits masih kurang, bahkan kalau
engkau melihat sesseorang bisa berjalan di atas air atau bisa terbang di udara,
maka janganlah engkau anggap ia sebelum engkau memeriksa keadaan (amalan-amalan)
orang trsebut apakah sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah”.
Sehingga tidaklah benar anggapan bahwa Aresto adalah wali Allah karena Aresto
adalah mentrinya Iskandar yang kafir (karena tidak ada wali Allah dari orang
kafir), yang sebagian orang (diantaranya Ibnu Sina) menyangka bahwa Iskandar
adalah Dzulqornain.
f. Seorang wali yang telah jelas bahwasanya perkataan atau perbuatannya
menyelisihi Sunnah Nabi, maka dia harus kembali kepada kebenaran. Dan dia tidak
menentangnya. Sebagaimana Umar , beliau tidak membantah Abu Bakar  dengan
berkata :”Tapi saya kan wali, saya kan mendapat ilham dari Allah, saya kan
dijamin masuk surga, dan kalian harus menerima perkataan saya”
g. Seorang wali harus mematuhi syari’at Muhammad. Para Nabi saja kalau hidup
sekarang harus mengikuti syari’at Muhammad  apalagi para wali. Karena jelas para
Nabi lebih bertaqwa daripada para wali dari selain Nabi. Ibnu Mas’ud t berkata
:”Tidaklah Allah mengutus seorang nabipun kecuali Allah mengambil perjanjiannya,
jika Muhammad  telah diutus dan nabi tersebut masih hidup maka nabi tersebut
harus benar-benar beriman kepadanya dan menolongnya. Dan Allah memerintah Nabi
tersebut untuk mengambil perjanjian kepada umatnya kalau Muhammad  telah diutus
dan mereka (umat nabi tersebut masih) hidup maka mereka akan benar-benar beriman
kepadanya dan menolongnya.”
h. Seorang wali tidak boleh menyombongkan dirinya dengan mengaku-ngaku bahwa dia
adalah wali,  sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul kitab yang mereka mengaku
bahwa mereka adalah wali-wali Allah. Sebagaimana firman Allah : Dan janganlah
kalian menyatakan diri-diri kalian suci. Dia (Allah) yang lebih mengetahui
tentang orang yang bertaqwa. (An-Najm : 32 )
Orang mengaku dirinya adalah wali maka dia telah berbuat maksiat kepada Allah 
karena telah melanggar larangan Allah  ini. Dan orang yang bermaksiat tidak
pantas disebut wali Allah.
Dan juga bukan termasuk syarat sebagai wali Allah yaitu dia harus memiliki
karomah. Namun karomah merupakan tambahan kenikmatan yang Allah berikan kepada
siapa saja yang Ia kehendaki dari kalangan para wali-Nya. Dan wali-wali Allah
tidak memiliki ciri-ciri yang khusus pada perkara-perkara mubah yang bisa
membedakannya dengan manusia yang lain. Pakainnya sama, rambutnya sama, dan yang
lainnya juga sama.
Contoh-contoh karomah para wali Allah
1. Amir bin Fahiroh mati syahid, maka mereka mencari jasadnya namun tidak bisa
menemukannya. Ternyata ketika dia terbunuh dia diangkat dan hal ini dilihat oleh
Amir bin Thufail. Berkata Urwah:”Mereka melihat malaikat mengangkatnya”
2. Kholid bin Walid ketika mengepung musuh di dalam benteng yang kokoh, maka
para musuhpun berkata :”Kami tidak akan menyerah sampai engkau meminum racun”,
lalu diapun meminum racun namun tidak mengapa.
3. Sa’ad bin Abi Waqqos adalah orang yang selalu dikabulkan do’anya. Dan dengan
do’anya itulah dia berhasil mengalahkan pasukan Kisro dan menguasai Iroq.
4. Umar bin Khottob, pernah mengutus pasukan dan beliau mengangkat seorang
pemuda yang bernama Sariyah untuk memimpin pasukan tersebut. Dan ketika Umar
sedang berkhutbah di atas mimbar, beliau berteriak :”Wahai Sariyah, gunung !,
wahai Sariyah, gunung !”. Lalu utusan pasukan tersebut menemui Umar dan berkata
: “Wahai Amirul Mu’minin, kami bertemu musuh, tiba-tiba ada suara teriakan
:”Wahai Sariyah, gunung!”, lalu kami menyandarkan punggung-punggung kami ke
gunung kemudian Allah memenagkan kami”.
5. Abu Muslim Al-Khoulani, dia pernah dicari oleh Al-Aswad Al-‘Anasi yang
mengaku sebagai nabi. Lalu Al-Aswad bertanya kepada beliau :”Apakah engkau
bersaksi bahwa saya adalah Rosul Allah?”, lalu dia berkata :”Saya tidak dengar”,
lalu dia bertanya lagi :”Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rosul
Allah?”, beliau menjawab :”Ya”. Lalu disiapkan api dan beliau dilemparkan ke
api. Namun mereka mendapatinya sedang sholat di dalam kobaran api itu, api itu
menjadi dingin dan keselamatan untuknya.
6. Sa’id Ibnul Musayyib, di waktu hari-hari yang panas, beliau mendengar adzan
dari kuburan Nabi ketika tiba waktu-waktu sholat, dan mesjid dalam keadaan
kosong (karena panasnya hari –pent), tidak ada seorangpun kecuali dia.
7. Uwais Al-Qorni ketika wafat mereka menemukan di bajunya ada beberapa kain
kafan yang sebelumnya tidak ada, dan mereka juga menemukan lubang yang digali di
padang pasir yang sudah ada lahadnya. Lalu mereka mengafaninya dengan
kefan-kafan teresbut dan menguburkannya di lubang tersebut.
 8. Asid Bin Hudlair membaca surat Al-Kahfi lalu turunlah bayangan dari langit
yang ada semacam lentera dan itu adalah para malaikat yang turun karena
bacaannya. Dan malaikat pernah menyalami Imron bin Husain . Salman  dan Abu
Darda’  makan di piring lalu piring mereka bertasbih atau makanan yang ada pada
piring tersebut bertasbih. Ubbad bin Busyr  dan Asid bin Hudlair  kembali dari
Rosulullah pada malam yang gelap gulita. Maka Allah menjadikan cahaya bagi
mereka berdua, dan tatkala mereka berpisah maka terpisah juga cahaya tersebut.
9. Muthorrif bin Abdillah jika memasuki rumahnya maka tempayan-tempayannya
bertasbih bersamanya. Dia bersama seorang sahabatnya berjalan di malam hari,
lalu Allah menjadikan cayaha untuk mereka berdua.
 10. Ahnaf bin Qois. Ketika dia wafat, tutup kepala milik seseorang terjatuh di
kuburannya. Lalu orang tersebut mengambil topinya, dan dia melihat kuburannya
telah menjadi seluas mata memandang.
11. Utbah Al-gulam, dia meminta kepada Allah tiga perkara, yaitu suara yang
indah, air mata yang banyak, dan makanan yang diperoleh tanpa usaha. Dan jika
dia membaca Al-Qur’an maka dia menangis dengan air mata yang banyak. Dan jika
dia bernaung di rumahnya dia mendapatkan makanan dan dia tidak tahu dari manakah
makanan tersebut.
Siapakah wali-wali syaithon ?
Allah  berfirman :
 Dan barang siapa yang berpaling dari pengajaran Ar-Rohman, kami adakan baginya
syaithon yang menyesatkan, maka syaithon itulah yang menjadi teman yang selalu
menyertainya. (Az-Zukhruf : 36)
 Apakah akan aku beritahukan kepadamu, kepada siapkah syaithon-syaithon itu
turun ?, mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa. Mereka
menghadapkan pendengaran (kepada syaithon) itu, dan kebanyakan mereka adalah
pendusta. (As-Syu’aro’ : 221,223)
Contoh-contoh tipuan syaithon
a.Abdullah bin Soyyad. Nabi  pernah menguji Ibnu Soyyad (seorang dukun yang
hidup di zaman Nabi yang dia adalah seorang Yahudi). Nabi  berkata kepadanya
:”(Cobalah tebak) aku menyembunyikan sesuatu (di hatiku)”. Ibnu Soyyad berkata
:”Ad-Dukh…Ad-Dukh..”.  Padahal sesungguhnya Nabi  sedang menyembunyikan surat
Ad-Dukhon. Lalu Nabi berkata kepadanya :”Cih, engkau tidak mampu melampaui
kemampuanmu” Ibnu Soyyad hampir betul menebak apa yang ada di hati Nabi, dan ini
adalah suatu keajaiban, namun dengan bantuan syaithon. Karena seorang yang
normal maka dia tidak akan bisa mengetahui isi hati manusia, bahkan Nabi pun
tidak mengetahui isi hati manusia kecuali yang diberitahu oleh Allah . Para
sahabat pun (kecuali Hudzifah, karena dia telah diberitahu oleh Nabi  tidak
mengetahui siapa-siapa saja orang munafik yang ada bersama mereka.
b.Al-Aswad Al-‘Anasi yang mengaku sebagai nabi. Dia dibantu para syaithon yang
memberitahukan kepadanya tentang perkara-perkara ghoib. Dan tatkala kaum
muslimin memeranginya mereka kawatir para syaithonnya akan mengabarkan kepadanya
apa yang mereka bicarakan tentang dirinya (yaitu bahwasanya dia akan dibunuh
–pent). Namun istrinya sadar akan kekafiran suaminya maka diapun menolong kaum
muslimin.
c.Musailamah Al-Kadzdzab yang juga mengaku sebagai nabi, memiliki
syaithon-syaithon yang memberitahukan perkara-perkara gho’ib kepadanya dan
membantunya melakukan hal-hal yang ajaib. Diantaranya dia pernah meludah di
sumur sehingga air sumur tersebut menjadi melimpah.
c.Al-Harits Ad-Dimasyqi, seorang pembohong besar yang muncul dan mengaku sebagi
nabi di Syam pada zaman khalifah Abdul Malik bin Marwan (wafat tahun 86 H).
Al-Harits memiliki kemampuan ajaib. Para syaithonnya melepaskan kedua kakinya
dari belenggu, dan membuatnya kebal senjata, dan batu pualam bisa bertasbih jika
dia sentuh dengan tangannya. Dan dia telah melihat orang-orang dalam keadaaan
berjalan dan naik kuda terbang di udara, dia berkata : “Mereka adalah malaikat”,
padahal mereka adalah jin. Dan tatkala kaum muslimin menangkapnya untuk dibunuh,
maka ada orang yang menombaknya di tubuhnya, namun tidak mempan. Maka Abdul
Malik berkata kepadanya :”Engkau tidak menyebut nama Allah”. Lalu orang itu
menyebut nama Allah dan berhasil membunuh Al-harits.
d. Lia ‘Aminuddin, yang mengaku sebagai Imam Mahdi dan mengaku telah didatangi
oleh Jibril. Keajaiban yang ada padanya yaitu dia mampu untuk menyembuhkan
berbagai penyakit. Bahkan dia mengaku adalah seseorang yang memberantas bid’ah
dan kesyririkan.
Syubhat-syubhat
Syubhat pertama
Sesungguhnya Rosulullah diutus kepada manusia pada umumnya namun tidak pada
manusia-manusia yang khusus yaitu para wali, dan para wali tersebut tidak butuh
kepada Nabi, mereka memiliki cara tersendiri untuk mencapai Allah. Sebagaimana
Nabi Musa tidaklah diutus kepada Nabi Khidir sehingga Nabi Khidir tidak wajib
mengikuti syari’at Musa.
Jawab
Perkataan ini sebagaimana perkataan kebanyakan para ahlul kitab (Yahudi dan
Nasrani) bahwasanya Rosulullah diutus kepada orang-orang yang tuna aksara bukan
kepada mereka. Dan pendalilan dengan kisah antara Khidir dan Musa adalah tidak
tepat, sebab :
a. Bahwasanya Musa tidaklah diutus kepada Khidir (tetapi hanya diutus untuk bani
Isroil), sehingga Khidir tidaklah wajib mengikuti Nabi. Adapun Muhammad 
risalahnya umum untuk seluruh jin dan manusia. Bahkan jika ada orang yang lebih
mulia dari Khidir (seperti Ibrohim, Musa, dan Isa) bertemu dengan Nabi, maka dia
wajib mengikuti Nabi. Apalagi Khidir, tentu lebih wajib lagi.
Oleh karena itu Khidir berkata kepada Musa : “Aku diatas ilmu yang diajarkan
Allah kepadaku yang tidak kau ketahui dan engkau di atas ilmu yang Allah
mengajari engkau yang aku tidak mengetahuinya”. Dan tidak boleh bagi seorangpun
yang sampai kepadanya risalah Muhammad  untuk berkata sebagaimana perkataan
Khidir ini.
b. Apa yang telah dilakukan oleh Khidir tidaklah menyelisihi syari’at Musa. Musa
tidaklah mengetahui sebab yang membolehkan hal-hal itu. Dan ketika Khidir
menjelaskan sebab-sebab tersebut Musa menyetujuinya. Sehingga berkata Ibnu Abbas
kepada Najdah Al-Harwari ketika dia bertanya kepada Ibnu Abbas  tentang membunuh
anak-anak kecil: “Jika kamu mengetahui anak-anak tersebut sebagaimana yang
diketahui oleh Khidir tentang anak kecil (yang dibunuhnya) maka bunuhlah mereka,
dan jika tidak maka jangan.”
Syubhat kedua
Mereka (para wali syaithon) menganggap bahwa mereka mendapat wahyu langsung dari
Allah    -sebagaimana yang diserukan oleh Ibnu Arobi-, dan bahwasanya mereka
lebih baik dari para nabi yang mengambil ilmu dari Allah melalui perantara.
Mereka berkata :”Kenabian telah berakhir dengan wafatnya Rosulullah, sedangkan
kewalian belum berakhir. Dan yang paling terakhir adalah yang lebih baik dari
yang sebelumnya”.
Jawab :
Ini adalah pemikiran sesat Ibnu Arobi yang sama sekali tidak bersandar kepada
dalil. Ketika dia mengetahui bahwa syari’at ini sudah tidak bisa dirubah lagi
hingga hari kiamat, (dan dia ingin keluar dari syari’at) maka dia berkata
:”Kenabian telah tertutup, tetapi kewalian belum”, dan dia menganggap bahwa
kewalian lebih tinggi derajatnya dari pada kerosulan dan kenabian, sebagaimana
dia berkata :
 Kedudukan kenabian berada di alam barzakh, sedikit di atas (kedudukan) Rosul
dan dibawah (kedudukan) Wali
Hal ini tentunya pemutarbalikan syari’at. Seharusnya kenabian lebih khusus dari
kewalian dan kerosulan lebih khusus daripada kenabian. Sehingga kedudukannya
adalah kerosulan lebih tingi daripada kenabian dan kenabian lebih tinggi
daripada kewalian. Berkata Imam Abul ‘Izz Al-Hanafi :”Maka siapakah yang lebih
kafir dari memisalkan dirinya dengan sebuah bata emas dan memisalkan Nabi dengan
bata perak, lalu dia menjadikan dirinya lebih tinggi daripada Nabi,…….bagaimana
bisa samar kekufuran dari perkataannya (Ibnu Arobi) ini ?…..dan kekufuran Ibnu
“Arobi lebih parah dari kekufuran orang-orang yang berkata : “Tidaklah kami
beriman hingga kami diberikan apa yang diberikan kepada Rosulullah” (Al-An’am :
124)”
Syubhat ketiga
Kami tidak usah menjalankan syari’at karena Allah  telah bersatu dengan kami
para hambanya yang sholih. Bukankah Allah  berkata dalam hadits qudsi :
 Dam hamba-Ku senantiasa bertaqorrub (mendekatkan dirinya) kepada-Ku dengan
amalan-amalan nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya. Apabila Aku
mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan
penglihatannya yang dia melihat dengannya, dan tangannya yang dia memukul
dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya, dan jika dia meminta
kepada-Ku maka akan aku berikan, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku
maka aku akan melindunginya.
Jawab : Dzohir hadits ini adalah bukanlah Allah  menjadi pendengarannya,
penglihatannya, tangannya,  dan kakinya, tetapi dzohirnya adalah Allah 
meluruskan (memberi petunjuk) kepada penglihatan, pendengaran, tangan dan
kakinya, sehingga apa yang dilakukan oleh hamba tersebut selalu dibimbing oleh
Allah. Adapun makna yang batil di atas adalah tidaklah mungkin, sebab :
- Ini merupakan aqidah wihdatul wujud (manunggaling kawulo gusti) yang sesat
karena bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang muhkam (jelas) yang tidak
bisa lagi dipalingkan lagi maknanya.
- Barang siapa yang memperhatikan hadits ini dengan baik maka dia akan faham
tentang batilnya aqidah wihdatul wujud ini. Dalam hadits ini Allah  menetapkan
adanya hamba (yang beribadah) dan ma’bud (yang diibadahi), yang mendekat
(bertaqorrub) dan yang didekati (ditaqorrubi), yang dicintai dan yang mencintai,
yang meminta dan yang memberi, yang meminta perlindungan dan yang memberi
perlindungan. Maka hadits ini menunjukan adanya dua dzat yang berbeda, yang satu
bukan yang lainnya. Dan bukan pula yang satu merupakan sifat atau bagian dari
yang lainnya.
- Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki si wali semuanya
adalah sifat-sifat atau bagian-bagian pada makhluk yang baru tercipta yang
sebelumnya belum ada (belum tercipta). Maka tidak mungkin bagi siapa saja yang
berakal untuk memahami bahwa pencipta yang awal (yaitu Allah) yang tidak ada
sebelum Dia sesuatupun, akan menjadi pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki
makhluk. Bahkan hal seperti inipun sulit untuk dibayangkan kalaupun kita anggap
benar.
Perbedaan antara karomah wali Allah dan tipuan wali syaithon
1. Bahwa karomah para wali tersebut disebabkan oleh keimanan dan ketaqwaan.
Sedangkan keajaiban dan keluarbiasaan lain yang merupakan bantuan syaithon
disebabkan oleh hal-hal yang merupakan larangan Allah  dan Rosulullah. Jadi
apabila di dalamnya mengandung unsur-unsur yang disenangi oleh syaithon, baik
itu kemusyrikan, kedzoliman, atau kebid’ahan, maka jelas yang terjadi pasti
bukan karomah.
2. Karomah tidak bisa dibatalkan dengan bacaan-bacaan apa saja dan tidak bisa
dilawan. Sedangkan kejadian-kejadian luar biasa lain yang merupakan bantuan
syaithon bisa dibatalkan dengan bacaan-bacaan ayat-ayat Allah seperti ayat kursi
dan lain-lain
3. Karomah tidak bisa dipelajari sehingga menjadi suatu ilmu kedigdayaan yang
baku. Sedangkan kejadian-kejadian luar bisa yang berasal dari syaithon bisa
dipelajari. Sebagaimana karomah-karomah yang telah dimiliki oleh para salaf,
tidak ada satu atsarpun yang menunjukan bahwa mereka pernah mengajarkan karomah
mereka kepada orang lain. Sebagaimana Umar , beliau tidak pernah mengajarkan
karomahnya kepada orang lain, kerena memang tidak bisa diajarkan.
4. Karomah pada umumnya tidak bisa dilakukan terus menerus, tetapi terjadi
sesuai kehendak Allah bukan berdasarkan kehendak Wali yang mendapatkan karomah
tersebut.
Pengetahuan tambahan :
1. Seluruh orang yang beriman adalah wali-wali Allah. Dan wali-wali yang paling
mulia adalah para Nabi. Dan para Nabi yang paling mulia adalah para Rosul. Dan
para Rosul yang paling mulia adalah para Rosul yang lima (Ulul ‘Azmi), dan
diantara Ulul ‘Azmi yang paling mulia adalah Nabi Muhammad.
2. Persamaan dan perbedaan antara Mu’jizat dan karomah.
Persamaannya : Mu’jizat dan karomah sama-sama merupakan hal yang ajaib yang luar
biasa (yang tidak bisa dilkukan olah orang biasa) yang Allah berikan kepada para
hambanya.
Perbedaannya
- Mu’jizat hanya berlaku pada para Nabi dan Rosul, adapun karomah pada para
wali.
- Mu’jizat diperoleh dengan kenabian, adapun karomah diperoleh dengan ketaqwaan.

- Karomah kedudukannya lebih rendah daripada mu’jizat.
- Akibat dari mu’jizat adalah baik, adapun efek samping dari karomah belum
tentu.
- Pemilik mu’jizat (yaitu para Nabi dan Rosul) menantang orang-orang yang
menyelisihinya, adapun pemilik karomah tidak demikian.
3. Kita harus mengakui adanya karomah, tidak sebagaimana mu’tazilah yang
mengingkari karomah dan berkata :”Kalau kita mengakui karomah, maka akan sama
wali dengan Nabi”, oleh karena itu kami mengingkari karomah dan juga mengingkari
hakikat sihir. Namun ini tidaklah benar sebab orang yang memiliki karomah
tidaklah mengaku bahwa dia adalah seorang Nabi.
4. Dalam beribadah hendaknya kita berniat karena Allah bukan karena untuk
mencari karomah. Kita meminta kepada Allah agar bisa istiqomah dalam hidup kita
bukan mencari karomah. Berkata Abu Ali Al-Jauzaja’i : “Jadilah engkau orang yang
mencari keistiqomahan, jangan menjadi pencari karomah. Sesungguhnya jiwamu
bergerak (berusaha) dalam mencari karomah padahal Rob engkau mencari
keistiqomahanmu”. Berkata Syaikh As-Sahrwardi :”Ucapan ini adalah prinsip yang
agung dalam perkara ini, karena sesungguhnya banyak mujtahid dan ahli ibadah
mendengar salaf yang sholih, telah diberi karomat-karomat dan hal-hal yang luar
biasa sehingga jiwa-jiwa mereka (para ahli ibadah itu) senantiasa mencari
sesuatu dari hal itu (karomah tersebut), dan mereka ingin diberikan sedikit dari
hal itu, dan mungkin diantara mereka ada yang hatinya prustasi dalam keadaan
menuduh dirinya bahwa amal ibadahnya tidak sah karena tidak mendapatkan karomah.
Kalau mereka mengetahui rahasia hal itu (yaitu Allah tidak menuntut para
hambanya untuk memperoleh karomah, tetapi yang Allah inginkan para hambanya
beristiqomah –pent) tentu perkara ini (mencari karomah) adalah perkara yang
rendah bagi mereka.
5. Hukum tenaga dalam, jika diatasnamakan Islam (biasanya dicampur dengan
dzikir-dzikir asma Allah) maka harom. Kalau mereka menyatakan bahwa apa yang
mereka lakukan adalah untuk beribadah kepada Allah, maka kita katakan bahwa ini
adalah bid’ah sebab kenapa harus menggunakan tata cara dan gerakan-gerakan
khusus yang tidak pernah diajarkan oleh Allah dan Nabi. Dan tidak ada dalil sama
sekali bahwa dengan bacaan-bacaan dan gerakan-gerakan khusus yang mereka lakukan
bisa mengahasilkan tenaga dalam. Kalau mereka mengatakan tujuan mereka untuk
beribadah dan untuk mempeoleh kekuatan, maka kita katakan bahwa mereka telah
melakukan kesyirikan sebab niat ibadah mereka selain untuk Allah juga untuk hal
yang lain.
Selain itu perkatek-praktek tenaga dalam yang ada menyelisihi syari’at
diantaranya :
- Latihannya harus menggunakan emosi, padahal Rosulullah telah melarang
seseorang untuk emosi, beliau bersabda :
 “Janganlah engkau marah”, Rosulullah mengulanginya beberapa kali “Janganlah
engkau marah”
Rahasia mereka (yang latihan tenaga dalam) harus marah sebab dengan marah
tersebut syaithon bisa masuk dalam tubuh mereka sehingga bisa memberi kekuatan
untuk tenaga dalam mereka. Sebagaimana sabda Rosulullah :
 Sesungguhnya syaithon mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana aliran darah.
(Riwayat Bukhori)
- Ketika latihan, mereka sering tidak sadar, terutama ketika sedang
memprkatekkan jurus mereka. Hal ini sama saja dengan sengaja membuat diri
menjadi tidak sadar (alias mabuk), dan hal ini tidak boleh dalam Islam, sebab
Islam menganjurkan kita untuk senantiasa menjaga akal kita sehingga bisa
senantiasa berdzikir kepada Allah.
- Kadang disertai dengan puasa mutih (tidak boleh makan kecuali yang
putih-putih), yang ini tidak ada syari’atnya dalam Islam. Atau untuk menjaga
ilmunya dia harus menghindari pantangan-pantangan tertentu yang sebenarnya hal
itu dihalalkan baginya sebelum dia memiliki ilmu tenaga dalam tersebut. Dan ini
berarti mengha“Janganlah engkau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah
.
DAFTAR PUSTAKA :
1. Tanya  Jawab Islam dan akidah ..  H.M Munawir  MA
2, Kisah Wali Allah ...... Kyai H. Bisri
3. Kumpulan Hadist  Rasulullah

 

0 Responses to "Wali Allah dan Wali Syaiton "