0

Belajar Dari Wajah

Minggu, 11 Januari 2015



                           "Belajar Dari Wajah"
                                             


Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Menarik sekali jika kita terus-menerus belajar tentang fenomena apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini. Salah satunya adalah wajah. Wajah? Ya, wajah. Wajah bukan hanya masalah bentuk, yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

Ketika pagi menyingsing misalnya, tekadkan dalam diri, ''Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu bagaimana?'' Karena, pasti hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang.

Saat berjumpa dengan orang, kita bisa belajar ilmu tentang wajah, karena setiap wajah memberikan dampak yang berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Menakutkan? Mengapa? Apakah karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil, tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

Aa pernah berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram. Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air menyegarkan pada siang hari.

Kalau hari ini kita berhasil menemukan wajah seseorang yang menenteramkan, maka cari tahu mengapa dia bisa memiliki wajah seperti itu. Tentu kita akan menaruh hormat kepada dia. Betapa senyumannya yang tulus, pancaran wajahnya tampak sekali ia ingin membahagiakan siapa pun yang menatapnya. Sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap raut wajah yang berlawanan? Wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Ini pun perlu kita pelajari.

Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan dan menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak menenteramkan. Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah, raut seperti apakah yang ada di wajah ini?

Memang, ada di antara hamba-hamba Allah yang bibirnya didesain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapa pun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.

Bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, agar lebih ikhlas lagi. Karena senyum bukan sekadar mengangkat ujung bibir saja, tapi yang utama adalah keinginan membahagiakan orang lain. Rasulullah SAW memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang ditemuinya sehingga orang itu merasa puas. Diriwayatkan, bila ada orang yang menyapanya, Rasul menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama, sesuai kadar kemampuannya.

Walhasil, ketika Rasul berbincang dengan siapa pun, maka orang yang diajak berbincang itu senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang dan bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang ia contohkan. Hal itu berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

Kemuramdurjaan, ketidakenakan, dan kegelisahan itu muncul karena kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita sebagai yang paling utama. Makanya, kita sering melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh dan daya pancar yang kuat.

Karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah. Tentu bukan untuk meremehkan, tapi mengambil teladan wajah yang baik dan menghindari yang tidak baik. Lalu praktikkan dalam perilaku sehari-hari. Selain itu, belajarlah untuk mengutamakan orang lain, walaupun hanya sesaat saja. Wallahu a'lam.

0

Meraih Hikmah Dari Setiap Kejadian



                     "Meraih Hikmah dari Setiap Kejadian"
                                                                                


  Di mana pun dan kapan pun, kita harus selalu mengingat Allah. Sehingga apapun yang terjadi, kita tetap berada dalam "lingkaran-Nya". Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Dan, semoga pula kita selalu siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.

Saudaraku, orang yang beruntung adalah orang yang selalu bergerak dan selalu berusaha untuk lebih baik. Saya ingin mengingatkan kembali sebuah hadis dari Rasulullah SAW tentang waktu. Kalau hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka kita beruntung. Tapi kalau hari ini sama dengan kemarin, kita rugi. Kenapa? Masalah yang kita hadapi bergerak terus setiap hari. Kalau kualitas amal kita sama, berarti kita sudah kalah kemampuan. Apalagi kalau hari ini lebih jelek dari hari kemarin, pasti celaka. Yang namanya urusan, masalah, atau persoalan akan terus bergerak dan tidak bisa dihentikan. Pilihan kita hanya satu, yaitu bergerak lebih cepat dari masalah yang akan kita hadapi.

Karena itu, kita jangan takut dengan masalah yang akan menghadang. Yang harus kita takuti adalah kurangnya percepatan kita dalam menghadapinya. Ada sebuah perumpamaan tentang ujian di sekolah. Kenapa soal ujiannya sama, tapi hasilnya berbeda? Ada yang lulus, tapi ada pula yang gagal. Ada lulus pas-pasan, ada pula yang lulus dengan memuaskan. Yang membedakannya adalah kemampuan setiap peserta ujian dalam menyelesaikan soal. Yang akan menikmati ujian adalah yang jadwal belajar dan berlatihnya lebih banyak. Akibatnya menjelang ujian lebih senang, ketika ujian ia menikmati, dan setelah ujian ia dipuji. Beda dengan yang jarrang belajar dan jarang berlatih, sebelum ujian tegang, ketika ujian bingung, dan setelah ujian terpermalukan.

Ujian apa pun yang menimpa, kalau kita memiliki kesiapan ilmu dan mental, insya Allah ujian itu hanya akan mendatangkan nilai tambah dan kemuliaan diri.

Allah adalah Dzat Yang Maha Memberi Derita dan Allah pun Maha Memberi Manfaat. Dalam sebuah keterangan diungkapkan, "Jika Allah menyentuhkan (bukan menimpakan) mudharat, maka tidak ada satu pun yang bisa menolaknya; dan jika Allah memberikan satu kebaikan, maka tidak ada yang bisa menghalanginya, kecuali Dia sendiri".

Saudaraku, kita harus sadar bahwa tidak ada satu pun kejadian yang luput dari genggaman Allah SWT. Semuanya, total terjadi karena izin Allah SWT. Setiap kejadian, entah baik atu buruk, terjadi karena izin Allah. Karenanya, kita jangan sekadar mencari izin Allah, tapi kita harus mencari ridha Allah.

Begitupun dengan jatuhnya pesawat Lion Air di Solo pada 30 November 2004 lalu. Peristiwa itu terjadi karena izin Allah. Allah sudah mengatur settingannya; cuaca buruk, hujan lebat, siapa yang duduk di depan, siapa pula yang duduk dibelakang, siapa yang akan selamat, siapa pula yang akan meninggal.

Semuanya ada dalam skenario Allah SWT, dan tidak akan tertukar. Ada kasus yang tiketnya tertinggal, dia kecewa. Sebabnya Allah belum menghendaki ia meninggal. Ada pula yang waiting list, ia gembira mendapatkan tiket. Padahal saat mendarat itulah dia akan meninggal. Semuanya ada dalam genggaman Allah. "Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)" (QS Yunus: 49).

Apa hikmahnya bagi kita? Kala kita melihat musibah tersebut, maka keyakinan yang penuh kepada Allah harus kita dapatkan. Jangan sampai, ketika membahas musibah, kita hanya bisa menyalahkan, mencari sebab, tanpa melihat hikmah yang terjadi di belakangnya. Itu bab lain, tapi bab keyakinan kepada Allah mutlak harus kita dapatkan. Jangan biarkan setiap kejadian lolos begitu saja. Kita harus menjadikan setiap kejadian bernilai tambah.

Hikmah lainnya, di manapun dan kapan pun, kita harus selalu mengingat Allah. Sehingga apapun yang terjadi, kita tetap berada dalam "lingkaran" Allah. Tatkala kita naik pesawat misalnya, jadikan ia sebagai ladang ibadah, dengan selalu berzikir, bertafakur, dan sepenuhnya berlindung kepada Allah. Wallahu a'lam bish-shawab.

0

Rahasia Silaturahmi



                                     "Rahasia Silaturahmi"
                                                   
            
    "Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? 'Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan,' sabda Rasulullah SAW, 'adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah balasan (siksaaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan" (HR Ibnu Majah).

Silaturahmi tidak sekadar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang.

Makna menyambungkan menunjukkan sebuah proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. Menghimpun biasanya mengandung makna sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda, "Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus" (HR Bukhari).

Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk menyadari bahwa silaturahmi tidak hanya merekayasa gerak-gerik tubuh, namun harus melibatkan pula aspek hati. Dengan kombinasi bahasa tubuh dan bahasa hati, kita akan mempunyai kekuatan untuk bisa berbuat lebih baik dan lebih bermutu daripada yang dilakukan orang lain pada kita.

Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang kuat. Namun, bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahmi kepada kita, lalu dengan sengaja kita mengunjunginya, maka inilah yang disebut silaturahmi. Apalagi kalau kita bersilaturahmi kepada orang yang membenci kita atau seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya. Inilah silaturahmi yang sebenarnya.

Dalam sebuah hadis diungkapkan, "Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" tanya Rasul pada para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi" (HR Bukhari Muslim).

Dari sini terlihat jelas, betapa pentingnya menyambungkan tali silaturahmi dan memperkuat nilai persaudaraan tersebut. Betapa tidak! Dengan silaturahmi maka akan terjalin rasa kasih sayang dengan sesama manusia, bahkan dengan makhluk Allah lainnya. Bila ini terjadi maka rahmat dan kasih sayang Allah pun akan turun dan menaungi hidup kita.

Tapi sebaliknya, rahmat dan kasih sayang Allah akan menjauh bila tali silaturahmi sudah terputus di antara kita. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum yang di dalamya ada orang yang memutuskan tali persaudaraan".

Seorang sahabat yang bernama Abu Awfa pernah bekisah. Ketika itu, kata Abu Awfa, kami berkumpul dengan Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau bersabda, "Jangan duduk bersamaku hari ini orang yang memutuskan tali silaturahmi". Setelah itu seorang pemuda berdiri dan meninggalkan majelis Rasul. Rupanya sudah lama ia memendam permusuhan dengan bibinya. Ia segera meminta maaf kepada bibinya tersebut, dan bibinya pun memaafkannya. Ia pun kembali ke majelis Rasulullah SAW dengan hati yang lapang.

Sahabat, bagaimana mungkin hidup kita akan tenang kalau di dalam hati masih tersimpan kebencian dan rasa permusuhan. Perhatikan keluarga kita, kaum yang paling kecil di masyarakat. Bila di dalamnya ada beberapa orang saja yang sudah tidak saling tegur sapa, saling menjauhi, apalagi kalau di belakang sudah saling menohok dan memfitnah, maka rahmat Allah akan di jauhkan dari rumah tersebut. Dalam skala yang lebih luas, dalam lingkup sebuah negara. Bila di dalamnya sudah ada kelompok yang saling jegal, saling fitnah, atau saling menjatuhkan, maka dikhawatirkan bangsa tersebut akan semakin jauh dari rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Dari sini bisa kita pahami kenapa Rasul tidak menoleransi sekecil apapun perbuatan yang bisa menimbulkan perpecahan dan permusuhan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Berhati-hatilah kalian terhadap prasangka, sebab prasangka itu sedusta-dustanya cerita. Jangan pula menyelidiki, mematai-matai, dan menjerumuskan orang lain. Dan janganlah saling menghasud, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang bersaudara" (HR Bukhari Muslim).

Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Ini sangat penting. Sebab, bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya, laksana buih di lautan yang mudah diombang-ambing gelombang, bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah. Wallahu a'lam bish-shawab.

0

Penciptaan Langit Dan Bumi



                                                         "Pernahkah kita memikirkannya ?"
                                                                                 


 
                                                     
                         Bismillaahirrahmaanirrahiim
 
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
neraka". (QS. Ali Imran 3:190-191)
                                                                                     

Assalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh

Coba perhatikan dirimu, wahai sahabatku !
Rupa wajahmu, mata indahmu, senyum manismu,
Subhanallah..
Adakah insan yang sama sepertimu di belahan dunia ini
?
Baik rupa, sifat maupun wataknya ?
Tidak ada, bukan ?!
Yach..tidak ada seorangpun yang sama sepertimu, walau
dirimu kembar sekalipun !
Dari sekian banyak manusia, dari sekian triliun jiwa
Pernahkah engkau temui ada yang sama satu dengan
lainnya ?
Tidak ada bukan ?!
Apa yang terlintas di pikiranmu ?
Allah !

Yach..Maha Besar Allah..
Betapa Maha Kaya_Nya Dia..
Tak seorangpun yang patut dipuji selain Diri_Nya..!
Tidak ada sedikitpun yang pantas kita sombongkan atas
diri kita,
Begitupun terhadap makhluk-makhluk_Nya.
Subhanallah..walhamdulillah..walaa ilaa
hailallah..wallaahu akbar..!

Kita ini dulu hanyalah dari setetes air mani yang
hina, menjadi segumpal darah, kemudian menjadi
segumpal daging, tulang, kemudian dibalut dengan
kulit, sehingga jadilah kita, manusia, makhluk yang
amat sempurna penciptaan_Nya.
Betapa kita harus bersyukur, bukan ?
Apa yang terucap di bibirmu ?
Allah !

Diri kita hanyalah satu dari sekian banyak makhluk
yang Ia ciptakan, sahabatku..
Keciiil, tiada artinyanya sama sekali dibandingkan
dengan penciptaan langit dan bumi ini ! Pernahkah kita
memikirkannya ?

Allah menundukkan matahari dan bulan untuk kita,
Matahari bersinar, bulan bercahaya..
Tidak mungkin bagi matahari mengejar bulan, dan malam
mendahului siang
Masing-masing beredar menurut garis edarnya.
Pernahkah kita memikirkannya ?..

Allah menghamparkan bumi dan meletakkan gunung-gunung
yang kokoh, dan menumbuhkan tumbuhan darinya segala
macam jenis tanaman yang indah dipandang mata.
Pernahkah kita memikirkannya?

Allah menurunkan air dari langit yang banyak
manfaatnya, lalu menumbuhkan dengan air itu
pohon-pohon dan biji-bijian yang sebagian ada yang
kita makan.
Pernahkah kita memikirkannya ?

Allah memberi kita minum dari apa yang berada dalam
perut binatang ternak berupa susu yang bersih antara
tahi dan darah, yang enak ditelan bagi orang-orang
yang meminumnya. Pernahkah kita memikirkannya ?

Allah menundukkan langit dan dunia ini untuk kita,
Langit sebagai atap, Bumi tempat menetap
Pernahkah kita memikirkannya ?

Semuanya patuh pada apa yang diperintahkan Allah
kapadanya untuk melayani kita.
Pernahkah kita memikirkannya ?

Pernahkah terpikir jika semua itu tidak ditundukkan
Allah untuk kita, alamat dunia ini akan hancur ?
Dapatkah kita bayangkan apa yang akan terjadi ?
Pernahkah terpikir oleh kita, jika Allah lelah ataupun
lengah sesaat, maka seluruh yang ada di jagat raya ini
akan binasa ?!

Adakah orang yang mengetahui dengan tidak mengetahui ?
Adakah sama yang buta dengan yang melihat ?

Fenomena alam ini menunjukkan betapa Kuasa_Nya Allah
akan segala sesuatu.
Kelak suatu saat nanti langit itu akan pecah berderai.
Kelak suatu hari nanti bumi itu akan terbelah-belah
mengeluarkan apa yang dikandungnya.
Tidak takutkah kita ?, Tidak tergetarkah Qalbu dan
jiwa kita ?
Tidak bertambahkan keimanan, kecintaan serta kerinduan
kita pada_Nya ?

Tanpa kita sadari, silih bergantinya siang dan malam
dari detik menit kehidupan ini menyadarkan kita.

Baru saja kita lahir menjadi seorang bayi mungil,
tahu-tahu sudah sebesar ini.
Baru saja kita merasa tentram berdekatan dengan
orang-orang yang kita sayang, tahu-tahu mereka telah
pergi meninggalkan kita.
Baru saja kita tertidur dan terjaga, kemudian ?
Kita dapati tubuh ini sudah tua, tenaga sudah mulai
berkurang, rambut sudah mulai beruban, mata sudah
mulai rabun..dan..???
Siap-siap untuk pulang, kembali kepada siapa Yang
Menciptakan kita.
Tidakkah kita merindukan_Nya? Pernahkah kita
memikirkannya ?..

Pada suatu hari diwaktu shubuh, Setelah
mengumandangkan azan di Masjid Madinah, lama Bilal
menanti kehadiran Rasulullah keluar dari peraduannya
untuk shalat berjamaah, namun Rasul belum juga muncul.
Karena itu, pergilah Bilal menemuinya, antara perasaan
cemas kalau-kalau Rasul yang amat dicintainya jatuh
sakit.

Sesudah minta izin kepada Siti Aisyah, Bilal segera
menuju ke kamar tidur Rasulullah. Ketika sampai dimuka
pintu, Bilal melihat ke dalam, kamar yang sederhana
tanpa ada kasur tebal seperti kasur kita di sini,
tidak ada bantal bersulam yang indah melainkan hanya
seonggok rumput kering di sudut, itulah kekayaan Rasul
kita, sebagai Pemimpin Dunia yang telah menggerakkan
revolusi yang paling berhasil dalam sejarah
kemanusiaan selama dunia berkembang.

Didapatinya Nabi kita Saw sedang duduk di atas sajadah
menghadap Qiblat, menangis tersedu-sedu. Bertanya
Bilal, "Ya Nabiyallah, apakah gerangan yang
menyebabkan dikau menangis? Padahal kalau ada juapun
kesalahanmu, baik dahulu ataupun nanti, akan diampuni
oleh Allah".

Kemudian Rasulullah menjawab, "Wahai Bilal, tengah
malam telah datang Jibril membawa wahyu kepadaku dari
Allah Swt, demikian bunyinya." :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
neraka. (QS. Ali Imran 3:190-191)

Sengsara hai Bilal! Ujar Nabi selanjutnya, bagi orang
yang membaca akan ayat ini lalu tidak difikirkannya.

Apa maksud Rasulullah Saw tersebut, wahai sahabatku ?

Firman Allah dalam QS. Ali Imran 3 : 190-191 di atas
dan ungkapan Nabi tersebut mengandung makna yang dalam
bagi kita untuk senantiasa merenung dan memikirkan
Fenomena alam yang ada di sekeliling kita.

Jiwa yang suci bersih dapatlah mendengar dan melihat
indahnya alam ini. Disana terdapat tiga sifat Tuhan,
yaitu Jamal (indah), Jalal (agung), dan Kamal
(sempurna). Semua yang ada ini adalah dinding pembatas
kita dengan Dia. Tetapi bilamana kita berusaha
menembusnya (dengan sekuat jiwa) insya Allah, dengan
penglihatan ruhani yang bersih, niscahya terbukalah
hijab itu. Hanya mata yang lahir ini saja yang melihat
batas itu, melihat berbagai fenomena alam
Gunung menjulang tinggi, deburan ombak, awan berarak,
kembang bermekaran. Adapun mata ruhani mulailah
menembus dinding itu. Bukan dinding lagi yang
kelihatan, tetapi pencipta dari semuanya itu, "Allah".

"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari
siksa neraka".

Billaahi taufiq walhidayah
Wassalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatu