"Belajar Dari Wajah"
Subhanallah,
walaupun kulitnya tidak putih, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk
sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam.
Menarik sekali jika kita terus-menerus belajar tentang fenomena apa pun yang
terjadi dalam kehidupan ini. Salah satunya adalah wajah. Wajah? Ya, wajah.
Wajah bukan hanya masalah bentuk, yang utama adalah pancaran yang tersemburat
dari si pemilik wajah tersebut.
Ketika pagi
menyingsing misalnya, tekadkan dalam diri, ''Saya ingin tahu wajah yang paling
menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu
bagaimana?'' Karena, pasti hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang
per orang.
Saat berjumpa
dengan orang, kita bisa belajar ilmu tentang wajah, karena setiap wajah
memberikan dampak yang berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan,
ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan.
Menakutkan? Mengapa? Apakah karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab
ada yang hidungnya mungil, tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi
menyejukkan. Ada
yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.
Aa pernah
berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram. Subhanallah,
walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang
wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang
paling dalam. Sungguh bagai disiram air menyegarkan pada siang hari.
Kalau
hari ini kita berhasil menemukan wajah seseorang yang menenteramkan, maka cari
tahu mengapa dia bisa memiliki wajah seperti itu. Tentu kita akan menaruh
hormat kepada dia. Betapa senyumannya yang tulus, pancaran wajahnya tampak
sekali ia ingin membahagiakan siapa pun yang menatapnya. Sebaliknya, bagaimana
kalau kita menatap raut wajah yang berlawanan? Wajahnya bengis, struktur
katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak
ramah. Ini pun perlu kita pelajari.
Ambillah
kelebihan dari wajah yang menenteramkan dan menyejukkan tadi menjadi bagian
dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak menenteramkan. Tidak
ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah, raut seperti
apakah yang ada di wajah ini?
Memang,
ada di antara hamba-hamba Allah yang bibirnya didesain agak berat ke bawah.
Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallah,
bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang
amal bagi siapa pun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal
lagi.
Bagi
wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi
kualitas senyum tersebut, agar lebih ikhlas lagi. Karena senyum bukan sekadar mengangkat
ujung bibir saja, tapi yang utama adalah keinginan membahagiakan orang lain.
Rasulullah SAW memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang
ditemuinya sehingga orang itu merasa puas. Diriwayatkan, bila ada orang yang
menyapanya, Rasul menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama,
sesuai kadar kemampuannya.
Walhasil,
ketika Rasul berbincang dengan siapa pun, maka orang yang diajak berbincang itu
senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang dan bersikap,
ternyata menjadi atribut kemuliaan yang ia contohkan. Hal itu berpengaruh besar
terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.
Kemuramdurjaan,
ketidakenakan, dan kegelisahan itu muncul karena kita belum menganggap orang
yang ada dihadapan kita sebagai yang paling utama. Makanya, kita sering melihat
seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya,
ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca
koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan
kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh dan
daya pancar yang kuat.
Karena
itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah. Tentu bukan untuk meremehkan,
tapi mengambil teladan wajah yang baik dan menghindari yang tidak baik. Lalu
praktikkan dalam perilaku sehari-hari. Selain itu, belajarlah untuk
mengutamakan orang lain, walaupun hanya sesaat saja. Wallahu a'lam.




